Akhir pekan balap Formula 1 di Sirkuit Marina Bay, Singapura, menyisakan kekecewaan mendalam bagi Lewis Hamilton. Peraih tujuh gelar juara dunia asal Inggris tersebut gagal memaksimalkan potensi kecepatan mobilnya pada sesi Kualifikasi Sprint (Sprint Qualifying) yang digelar Jumat malam. Alih-alih mengamankan posisi start barisan terdepan, sang bintang anyar Ferrari itu harus puas menempati grid keenam setelah keputusan taktis yang ia ambil sendiri berujung pada hasil yang mengecewakan di fase penentuan.

Perjalanan akhir pekan Hamilton sebenarnya sempat menunjukkan secercah harapan positif pada sesi-sesi awal. Mengemudikan mobil bermesin Formula 1 dengan penuh percaya diri, ia berhasil mengamankan posisi keempat pada sesi SQ1, sebelum kemudian melompat impresif ke posisi kedua di SQ2. Dengan catatan waktu yang kompetitif dan ritme balap yang menjanjikan, publik paddock sempat memprediksi bahwa ia akan mampu bertarung di barisan terdepan dalam perebutan posisi start Sprint Race.

Namun, situasi berubah drastis ketika memasuki sesi pemungkas SQ3. Dalam fase krusial tersebut, pebalap berpengalaman asal Britania Raya ini mengambil keputusan kontroversial untuk hanya melakukan satu kali percobaan putaran cepat (flying lap). Strategi tunggal ini terbukti menjadi bumerang ketika para rival langsung memanfaatkannya dengan memperbaiki catatan waktu mereka, membuat posisi Hamilton yang tadinya sempat berada di peringkat ketiga secara perlahan merosot hingga terlempar ke urutan keenam saat bendera finis berkibar.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi hasil minor tersebut, Hamilton tidak menutup-nutupi rasa frustrasinya saat berbicara kepada para jurnalis seusai sesi. Ia menjelaskan bahwa kendala teknis pada keseimbangan mobil menjadi faktor utama yang merusak ritmenya di atas lintasan. Masalah cengkeraman ban belakang yang sangat minim membuat mobilnya sulit dikendalikan di tikungan-tikungan teknis Marina Bay.

Lewis Hamilton menjelaskan kendala teknis yang dihadapinya, “Dengan ban Medium saya melaju dengan baik, tetapi ada banyak perbedaan saat memakai ban Soft. Ada banyak cengkeraman, tetapi hanya di bagian depan dan praktis tidak ada di bagian belakang. Kemungkinan besar ini masalah keseimbangan. Di dua segmen pertama kualifikasi saya punya kecepatan, lalu tiba-tiba saya tidak bisa memacu lagi. Saya tidak punya cengkeraman belakang di putaran terakhir itu dan begitulah kenyataannya.”

Baca Juga Rosberg Sebut Mercedes Khawatir dengan Ancaman McLaren di F1 2026

Lebih lanjut, pebalap berusia senior ini dengan ksatria mengakui bahwa keputusan taktis yang diambilnya di garasi tim Kuda Merah merupakan sebuah kesalahan besar. Alih-alih menyalahkan strategi tim, ia mengambil penuh tanggung jawab atas keputusan hanya turun sekali ke trek pada saat krusial SQ3.

“Kami mengambil strategi yang berbeda dari yang lain, itu adalah pilihan saya. Dan saya pikir itu adalah keputusan yang salah. Mobil pada putaran itu mengalami oversteer. Itu adalah oversteer yang sangat, sangat gugup dan secara keseluruhan saya tidak melakukan putaran yang baik,” pungkas Hamilton dengan nada penyesalan.

Lewis Hamilton di GP Singapura
Lewis Hamilton saat sesi kualifikasi di GP Singapura.