Lampung, Nusantara Media – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada Minggu (16/8/2026). Gunung api yang terletak di perairan Selat Sunda, Provinsi Lampung, mengalami erupsi pada pukul 14:32 WIB. Berdasarkan laporan resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), tinggi kolom abu teramati mencapai ±250 meter di atas puncak atau sekitar ±407 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu tersebut berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan condong ke arah barat serta barat laut. Erupsi ini terekam jelas pada seismogram dengan amplitudo maksimum 52 milimeter dan berlangsung selama sekitar 55 detik. Informasi ini disampaikan melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau dan dipublikasikan di laman resmi MAGMA Indonesia.
Erupsi yang terjadi pada sore hari ini menandai kelanjutan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang sejak beberapa bulan terakhir menunjukkan peningkatan. Sebelumnya, pada pagi hari yang sama pukul 09:12 WIB, gunung ini juga sempat erupsi dengan kolom abu sekitar 200 meter di atas puncak. Aktivitas “batuk” berulang ini menjadi perhatian serius para pengamat gunung api.
Lokasi erupsi berada di Gunung Anak Krakatau, yang secara administratif masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Peristiwa terjadi tepat pada Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 14:32 WIB. Arah sebaran abu yang condong ke barat dan barat laut berpotensi memengaruhi perairan sekitar serta pulau-pulau kecil di Selat Sunda, tergantung kondisi angin.
Data resmi dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau. Sumber informasi utama berasal dari sistem MAGMA Indonesia (https://magma.esdm.go.id). Petugas pos pengamatan secara kontinu memantau parameter visual maupun instrumental, termasuk kegempaan, deformasi, dan visualisasi kolom abu.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang tumbuh di kaldera Krakatau pasca-letusan dahsyat 1883. Aktivitasnya bersifat fluktuatif dan sering mengalami fase erupsi eksplosif kecil hingga sedang. Peningkatan aktivitas sejak pertengahan 2026 membuat statusnya dinaikkan menjadi Level III (Siaga). Hingga saat ini, status tersebut masih dipertahankan.
Meskipun tinggi kolom abu pada erupsi sore ini relatif sedang (250 meter), intensitas tebal dan warna gelap mengindikasikan material vulkanik yang cukup signifikan. Potensi bahaya utama meliputi hujan abu, lontaran material pijar, serta aliran piroklastik jika erupsi lebih besar terjadi. Hingga laporan ini dibuat, belum ada laporan kerusakan atau korban jiw
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!