PANDEGLANG, NUSANTARA MEDIA - Dewan Pimpinan Cabang GMNI Pandeglang mengambil langkah konkret dalam memperkuat basis gerakan mahasiswa di tingkat lokal melalui penyelenggaraan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) RAYA. Agenda penting organisasi mahasiswa ini dilangsungkan selama dua hari penuh, terhitung mulai tanggal 7 hingga 8 November 2026. Pemilihan lokasi kegiatan dipusatkan di kawasan Villa Nini Aki, yang terletak di kawasan pesisir Carita, Kabupaten Pandeglang. Pelaksanaan pengkaderan tingkat dasar ini menjadi momentum krusial bagi kesinambungan organisasi dalam menjaring serta membina tunas-tunas baru pergerakan mahasiswa di daerah tersebut.
Mengusung tema sentral bertajuk “Dengan Marhaenisme, dari GMNI untuk Pandeglang”, kegiatan ini berhasil menarik minat serta partisipasi aktif dari puluhan peserta. Tercatat sebanyak 39 orang mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Kabupaten Pandeglang hadir mengikuti rangkaian acara dengan penuh antusiasme. Kehadiran para peserta ini mencerminkan tingginya minat kalangan akademisi muda untuk bergabung serta mendalami nilai-nilai perjuangan sosial yang diusung oleh organisasi mahasiswa nasionalis tersebut di kancah lokal.
Pelaksanaan PPAB RAYA ini secara substansial dirancang sebagai instrumen strategis untuk mencetak dan mempersiapkan kader-kader baru yang memiliki fondasi kesadaran ideologis yang matang. Selain itu, para peserta juga dibekali dengan semangat nasionalisme yang tinggi serta komitmen perjuangan yang kokoh untuk mendarmabaktikan diri bagi kepentingan masyarakat luas serta pembangunan daerah. Organisasi memandang bahwa pengkaderan yang terstruktur adalah kunci utama dalam melahirkan generasi penerus yang tangguh dan peka terhadap dinamika sosial di tengah masyarakat.
Ketua DPC GMNI Pandeglang, Abdul Aziz Zulfikar, memberikan penegasan mendalam dalam pidato sambutannya pada sesi pembukaan acara. Ia menggarisbawahi bahwa setiap kader yang berhimpun di bawah naungan organisasi dan berpegang teguh pada ajaran Marhaenisme serta pemikiran Bung Karno harus memiliki kapasitas untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur tersebut secara nyata. Pemikiran ideologis tidak boleh berhenti pada tataran wacana akademis semata, melainkan wajib diwujudkan dalam praksis kehidupan sehari-hari demi kemaslahatan umat.
Lebih lanjut, ia memaparkan pandangannya bahwa Marhaenisme menuntut pengejawantahan dalam tindakan nyata di tengah dinamika bermasyarakat dan bernegara. Kader dituntut untuk tidak berjarak dari realitas sosial rakyat. Dalam konteks pembangunan regional, Kabupaten Pandeglang membutuhkan kehadiran kaum intelektual muda yang mampu mengambil peran strategis secara berkesinambungan, baik sebagai pengawas kebijakan maupun motor penggerak kemajuan daerah.
Peran ganda yang diusung oleh organisasi ini adalah memposisikan diri secara proporsional sebagai mitra kritis sekaligus mitra strategis bagi pemerintah daerah. Kendati demikian, sikap dasar kerakyatan harus tetap dijaga tanpa kompromi. Hal tersebut ditegaskan oleh pimpinan cabang dalam salah satu poin krusial arah perjuangan organisasi ke depan demi terciptanya tatanan kehidupan daerah yang jauh lebih baik dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga 14 Tahun YAPEC, Berkhidmat dalam Pendidikan dan Membentuk Generasi Berakhlak MuliaDalam arahannya, Abdul Aziz Zulfikar menyampaikan penegasan secara terbuka mengenai esensi pengkaderan tersebut. Sebagaimana disampaikannya, sebagai kader GMNI, kita tidak cukup hanya memahami Marhaenisme secara teoritis. Ajaran Bung Karno harus mampu kita implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kader GMNI juga harus mengambil peran dalam pembangunan daerah, menjadi mitra kritis sekaligus mitra strategis pemerintah daerah demi terwujudnya Pandeglang yang lebih baik.
Acara pembukaan yang sarat dengan nuansa kekeluargaan dan semangat ideologis tersebut turut dihadiri oleh para jajaran alumni serta sejumlah Demisioner Ketua DPC GMNI Pandeglang dari berbagai lintas periode kepengurusan masa lalu. Kehadiran para senior dan mantan pemimpin organisasi ini memberikan dimensi historis tersendiri, sekaligus berfungsi sebagai penguat kesinambungan estafet perjuangan serta penjagaan tradisi organisasi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Para alumni dan demisioner yang hadir pada kesempatan tersebut juga tidak lupa menitipkan pesan penting kepada seluruh kader aktif yang baru bergabung. Mereka menekankan agar setiap anggota senantiasa menjaga muruah serta jati diri organisasi sebagai gerakan mahasiswa yang sejak awal lahir senantiasa berpihak kepada rakyat kecil. Kehadiran kader di tengah masyarakat harus mampu menjadi solusi atas persoalan riil yang dihadapi oleh rakyat sehari-hari.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!