Musim kompetisi tahun 2026 menyisakan cerita berat bagi Dominique Aegerter setelah ia harus melalui delapan dari 24 balapan tanpa meraih satu pun poin. Kendala teknis yang sempat mendera sejak seri pembuka di Australia turut memperparah situasi, ditambah performa motor Kawasaki yang pada awal musim dinilai masih tertinggal jauh dari para rival. Kondisi tersebut membuat pembalap asal Swiss ini kesulitan bersaing di barisan depan, sementara rekan setimnya, Jeremy Alcoba, tampil impresif di pengujung musim dengan menyabet mediasi perunggu kejuaraan dunia.
Dalam perbincangan mendalam bersama SPEEDWEEK.com, juara dunia dua kali itu merenungkan perjalanan kariernya yang penuh liku sepanjang tahun ini. Tekanan psikologis menghantam mentalitasnya ketika hasil di lintasan jauh dari harapan, memaksa dirinya mempertanyakan berbagai aspek mulai dari kondisi fisik, pola makan, porsi latihan, hingga keraguan mendasar terhadap masa depan kariernya di ajang balap profesional. Keadaan semakin pelik tatkala ia harus berjuang keras hanya demi memperebutkan posisi ke-17 di tiap akhir pekan balapan.
"Musim ini kami sering kali kesulitan hanya untuk sekadar finis di zona poin," ujar Dominique Aegerter membuka kisah perjuangannya. "Pada awal musim, kami sangat jauh dari kata kompetitif dengan paket keseluruhan yang ada, dan hal itu sangat memukul mentalitas saya. Ketika Anda mulai meragukan diri sendiri, apakah fisik sudah cukup bugar, apakah porsi makan sudah benar, atau apakah berat badan ideal, apakah latihan kurang atau berlebihan, hingga berpikir untuk berhenti dan bertanya-tanya apakah tim serta motor ini sudah cukup baik, maka semuanya menjadi sangat berat. Tidak ada seorang pun yang bisa membayangkan apa saja yang telah saya lakukan dan pikirkan — apa yang tidak saya lakukan dengan baik ketika saya hanya berjuang untuk posisi ke-17,"
Secara perlahan, titik terang mulai tampak menjelang akhir musim ketika pengembangan teknis pada motor Kawasaki menunjukkan progres signifikan. Perbaikan pada sektor krusial seperti respons gas, sistem pengereman mesin, hingga pengaturan sasis berhasil mendongkrak performa motor secara keseluruhan. Puncak pembuktian kapasitas aslinya tersaji pada seri pemungkas musim di mana ia sukses mengamankan podium kedua, sebuah hasil krusial yang menegaskan bahwa insting balapnya belum pernah pudar.
Baca Juga Maximo Quiles Kunci Gelar Juara Dunia Moto3 di Mandalika"Hasil itu sangat melegakan," imbuh Aegerter menegaskan pencapaiannya di seri penutup. "Bahkan sejak balapan di Estoril, saya sudah tahu bahwa saya mampu mencatatkan waktu putaran yang sama persis dengan para pembalap di barisan terdepan,"
Meski mampu bangkit di paruh kedua musim, perjalanan hubungan kerjanya dengan pabrikan hijau dipastikan tidak berlanjut untuk musim 2027 mendatang, mengingat tim telah memilih menggaet David Salvador dan Jaume Masia. Kendati demikian, Kawasaki tetap menjadi bagian dari sejarah perjuangannya musim ini, sementara sang pembalap kini tengah mengevaluasi berbagai opsi terbaik untuk melanjutkan karier kompetitifnya di kejuaraan dunia Supersport tahun depan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!