Program pembinaan pembalap muda Red Bull dikenal sebagai salah satu yang paling berpengaruh di ajang Formula 1, namun juga memegang reputasi sebagai salah satu yang paling kejam dalam mengambil keputusan. Di balik kesuksesan melahirkan juara dunia seperti Sebastian Vettel dan Max Verstappen, tekanan tinggi untuk meraih hasil instan membuat banyak talenta muda diberi sedikit sekali waktu untuk membuktikan kapasitas mereka di lintasan balap.
Mantan Prinsipal Tim Red Bull, Christian Horner, baru-baru ini berbicara dalam siniar The High Performance Podcast mengenai dinamika internal tim tersebut. Menurutnya, sejumlah pembalap seperti Alex Albon, Pierre Gasly, dan Liam Lawson dinaikkan pangkatnya ke tim utama Formula 1 terlalu cepat. Horner bahkan dengan terang-terangan mengarahkan pandangannya kepada Helmut Marko sebagai figur di balik keputusan terburu-buru tersebut.
Dalam penjelasannya, Horner menyatakan bahwa ia tidak sepenuhnya sepakat dengan kecepatan promosi yang diterapkan pada masa itu. Ia menilai ada determinasi yang kuat dari pihak Helmut Marko untuk terus memasukkan pembalap dari kolam junior Red Bull. Dalam pandangan Marko, program pembinaan tersebut tidak akan membenarkan eksistensinya jika mereka tidak segera mempromosikan para pembalap muda ke tim utama, meskipun Horner merasa proses itu terkadang mengabaikan kematangan sang pembalap dalam tahap perkembangan karier mereka.
Sebagai catatan sejarah, Pierre Gasly dipromosikan dari Toro Rosso setelah hanya menjalani satu musim penuh bersama Red Bull pada 2019, namun harus kembali ke tim satelit setelah 12 balapan. Alex Albon kemudian menyusul untuk menggantikannya pada sisa musim 2019 dan kampanye 2020 sebelum akhirnya tersingkir dan baru kembali ke grid F1 pada 2022 bersama Williams. Sementara itu, ketika Red Bull berpisah dengan Sergio Perez di akhir 2024, Liam Lawson sempat dipromosikan untuk tahun 2025 sebelum akhirnya dikembalikan ke AlphaTauri dan digantikan oleh Yuki Tsunoda setelah melakoni dua balapan saja.
Horner menegaskan bahwa para pembalap muda tersebut sebenarnya membutuhkan lebih banyak waktu untuk berevolusi dan mengembangkan kemampuan mereka secara utuh. Ia mencontohkan perjalanan karier pembalap lain seperti George Russell yang memiliki waktu matang bersama tim Williams sebelum akhirnya mendapat panggilan dari tim papan atas, sehingga mereka tiba di tim utama dalam kondisi yang jauh lebih siap dan matang secara mental maupun teknik.
Baca Juga Alonso: Monza Bukan Lagi 'Temple of Speed' di Era F1 2026Lebih lanjut, Horner menambahkan bahwa pendekatan agresif tersebut dibentuk oleh posisi istimewa Red Bull yang memiliki dua tim dan empat kursi di grid Formula 1. Meskipun para pembalap yang gagal di tim utama tidak langsung dibuang begitu saja dari keluarga besar Red Bull—seperti Gasly yang kembali ke Racing Bulls atau Lawson yang kembali ke tim saudaranya—Horner mengakui bahwa hampir mustahil bagi para pemuda itu untuk sukses dalam lingkungan bertekanan ekstrem yang mereka hadapi saat itu.
Dalam upaya menyelamatkan karier para anak didiknya, Horner mengaku bekerja keras dan berjuang demi masa depan mereka. Ia bahkan menyebutkan bahwa pihaknya berkontribusi secara finansial untuk membantu Alex Albon mendapatkan kursi balap di tim Williams setelah terdepak dari skuad utama Red Bull. Pada akhirnya, Horner menyimpulkan bahwa semua dinamika pahit tersebut bermuara pada satu kenyataan utama, yakni para pembalap berbakat tersebut tiba di panggung utama Formula 1 jauh lebih cepat dari waktu ideal yang semestinya mereka miliki.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!