CEO Formula 2 Bruno Michel akhirnya buka suara mengenai perjalanan karier Colton Herta yang memutuskan pindah dari ajang IndyCar menuju kompetisi balap pengumpan Formula 1 tersebut. Langkah besar ini awalnya dipandang sebagai batu loncatan penting bagi sang pembalap asal Amerika Serikat demi mengamankan poin super licence yang dibutuhkan untuk menembus grid utama Formula 1 bersama tim Cadillac di masa depan. Namun, realitas di lintasan balap membuktikan bahwa adaptasi dengan mobil spesifikasi Eropa jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan sebelumnya oleh berbagai pihak yang terlibat.

Perjalanan karier Colton Herta sendiri sebenarnya sudah lama dikaitkan dengan ajang Formula 1, termasuk peluang sebelumnya yang sempat tertutup akibat kendala regulasi poin super licence dari ajang IndyCar. Ketika Cadillac resmi bergabung ke dalam grid Formula 1 dan merekrut Herta sebagai pebalap penguji sekaligus pengembang, asa tersebut kembali menyala terang. Karena ajang IndyCar tidak memberikan poin yang cukup untuk memenuhi syarat super licence tanpa gelar juara beruntun, jalan paling realistis bagi Herta adalah turun langsung berkompetisi di kejuaraan Formula 2 untuk mengumpulkan pundi-pundi poin yang krusial.

Kendati demikian, musim debut sang pebalap di kancah Formula 2 justru berjalan di luar ekspektasi banyak pihak dan jauh dari kata mulus. Alih-alih mengamankan posisi sepuluh besar di klasemen akhir untuk mengunci syarat super licence, ia justru tertahan di peringkat ke-19 tanpa pernah sekalipun merasakan manisnya naik podium ataupun kemenangan sepanjang musim kompetisi ini. Berbagai insiden di lintasan serta kecelakaan mewarnai perjalanannya, memperlihatkan betapa sulitnya melakukan penyesuaian diri terhadap karakteristik mesin dan ban mobil Formula 2 yang sangat berbeda dari mobil IndyCar yang sudah lama ia kendarai.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi situasi pelik ini, Bruno Michel tidak menutup mata dan secara terbuka mengakui bahwa tantangan yang dihadapi oleh sang pebalap telah diremehkan sejak awal. Dalam wawancaranya bersama PlanetF1.com, pimpinan tertinggi ajang balap tersebut menyatakan bahwa dirinya merasa cukup terkejut dengan rumitnya proses transisi yang harus dilalui oleh salah satu bintang asal Amerika Serikat tersebut. Ia menegaskan bahwa kapasitas skill mengemudi sang pebalap sebenarnya tidak perlu diragukan lagi mengingat rekam jejaknya yang luar biasa di seberang Atlantik.

Bruno Michel menjelaskan secara lebih mendalam mengenai situasi tersebut, "Itu telah menjadi jauh lebih sulit daripada apa yang saya pikirkan sebelumnya karena Colton adalah seorang pebalap yang sangat kuat. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Dia dan kami mungkin telah meremehkan perbedaan lingkungan kerja yang kami miliki, jika dibandingkan dengan tim-tim IndyCar." Pernyataan ini menggarisbawahi betapa kontrasnya budaya kerja, pendekatan teknik, serta atmosfer paddock antara balapan Amerika Utara dan sistem pembinaan piramida menuju Formula 1 di Eropa.

Baca Juga F2 Supersize Baku, Masa Depan Musim 2026 di Ujung Tanduk

Lebih lanjut, Michel juga menyoroti kendala terbesar yang kerap menghambat performa kompetitif sang pebalap sepanjang akhir pekan balapan, terutama ketatnya persetujuan waktu di sesi kualifikasi resmi. Dengan durasi sesi yang sangat terbatas dan hanya menyisakan sedikit kesempatan untuk mencatatkan waktu terbaik menggunakan satu atau dua set ban baru, para pebalap dituntut untuk langsung tampil maksimal tanpa banyak ruang kesalahan. Format ketat inilah yang sengaja dirancang untuk menempa mentalitas pebalap agar siap menghadapi tekanan serupa di level tertinggi Formula 1, sebuah ujian yang diakui sangat menyiksa bagi pebalap debutan lintas benua.

Menutup perbincangan mengenai perjalanan musim ini, sang pengambil kebijakan tetap menaruh harapan besar agar pebalap andalan tersebut mampu membalikkan keadaan di sisa seri balapan terakhir. "Namun, saya tidak berpikir hal itu harus dijadikan sebagai sebuah contoh buruk, dan saya sangat berharap bahwa dia akan menyelesaikan musim ini dengan catatan positif. Kami masih menaruh harapan untuk itu," pungkas Michel seraya menegaskan bahwa kerja keras yang telah ditunjukkan tetap layak diapresiasi demi menutup musim dengan hasil terbaik.