Ajang balap akhir pekan ini kembali diwarnai oleh kontroversi teknis yang memicu kemarahan para pembalap di lintasan. Otoritas tertinggi balap mobil internasional, FIA, secara terbuka mengonfirmasi bahwa telah terjadi kesalahan fatal yang bersumber dari kendali balap atau race control. Insiden tersebut mengakibatkan para pembalap mendapatkan tingkat tenaga mesin yang berbeda-beda secara tidak adil selama fase krusial penutupan sesi SQ1. Kekacauan ini bermula sesaat setelah bendera merah berkibar menyusul insiden kecelakaan keras yang dialami oleh pembalap Sergio Perez di atas kendaraannya.
Masalah pelik ini membuat sebagian pembalap terpaksa kehilangan akses terhadap tambahan tenaga energi vital yang biasa disuplai melalui mode menyalip atau Overtake Mode. Di sisi lain, beberapa pembalap justru sempat menikmati keuntungan besar karena fitur tersebut tetap aktif secara tidak konsisten. Situasi timpang ini jelas sangat memengaruhi keadilan kompetisi dan hasil akhir dari sesi kualifikasi sprint tersebut. Dampak terburuk dirasakan oleh Carlos Sainz yang harus tersingkir lebih awal di SQ1 dan terpuruk di posisi ke-22 akibat kesulitan mengendalikan masalah pengereman serta ban mobilnya.
Pembalap andalan skuad Williams tersebut meluapkan kekecewaannya secara terbuka usai sesi kualifikasi berakhir dengan menyoroti keputusan pengawas balapan. Menurutnya, ada masalah perangkat lunak berulang yang kembali merugikan pihak timnya di saat-saat paling menentukan. "Ada masalah software lain dengan mobil-mobil kali ini dan kami berada di ujung yang buruk darinya," keluh Sainz kepada media. Ia menambahkan bahwa pihak penyelenggara terkesan abai terhadap prinsip keadilan olahraga dengan membiarkan setengah grid melaju dengan tenaga lebih tinggi.
Lebih lanjut, pembalap asal Spanyol itu mengklaim bahwa selisih tenaga mesin yang tidak merata tersebut telah merugikan catatan waktunya hingga sekitar setengah detik penuh di atas lintasan. Kendati demikian, ia secara kesatria tetap mengakui bahwa kendala teknis pada sektor rem dan kompon ban juga turut menjadi faktor penghambat performanya. Pihak federasi sendiri akhirnya mengakui bahwa kekacauan tersebut murni disebabkan oleh kelalaian manusia di ruang kontrol balap, bukan sekadar gangguan sistem pencatatan waktu yang sempat terjadi secara terpisah.
Baca Juga Reliabilitas Hantui Dominasi Mercedes di Paruh Pertama F1 2026Berdasarkan investigasi internal, fitur Overtake Mode sejatinya sengaja dinonaktifkan selama periode bendera merah berkibar di lintasan. Namun, para petugas pengawas lalai mengaktifkannya kembali ketika mobil-mobil kembali dilepas dengan sisa waktu enam menit. Setelah kesalahan fatal tersebut disadari, sistem sempat dihidupkan kembali secara singkat sebelum akhirnya dimatikan lagi. Rentang waktu yang sangat singkat itu menciptakan ketidakadilan karena ketersediaan tenaga tambahan bergantung sepenuhnya pada posisi pembalap saat melakukan flying lap.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!