Arvid Lindblad menilai hukuman yang diterimanya pada Grand Prix Belanda sebagai sesuatu yang 'ekstrem'. Pembalap Racing Bulls itu terseret dalam kekacauan lap pertama yang dipicu oleh kecelakaan Max Verstappen yang mengakhiri balapannya.

Lindblad, satu-satunya rookie di grid Formula 1 musim 2026, sejauh ini menjalani musim yang impresif. Ia berada di posisi ke-11 klasemen dengan hasil terbaik finis ketujuh di Monako dan Silverstone. Namun, akhir pekan di Zandvoort berakhir pahit setelah ia dijatuhi penalti pada lap pertama.

Insiden bermula ketika Verstappen mengalami kecelakaan, memaksa para pembalap mengurangi kecepatan secara drastis di bawah bendera kuning ganda. Lindblad dinyatakan melakukan overtake terhadap Pierre Gasly saat memasuki Tikungan 1 dalam kondisi tersebut, sehingga ia dihukum drive-through.

- Advertisement -
Advertisement

"Kami berada di posisi yang sangat bagus setelah lap pertama," ujar Lindblad. "Menurut saya penalti ini agak keras. Saya pikir kita semua bisa setuju bahwa ini cukup ekstrem. Tapi ya, sudah begini, tidak ada gunanya berspekulasi sekarang. Sudah selesai."

Pembalap asal Inggris itu mengaku kecewa karena penalti tersebut merusak balapannya. "Sedih karena saya rasa itu merusak balapan kami. Tapi setelah itu, kami justru tampil cukup kuat. Ada beberapa hal yang bisa kami lakukan lebih baik, tetapi bagaimanapun, itu balapan yang sangat bagus. Saya hanya sedih tidak mendapat poin, karena saya dan tim layak mendapatkannya. Tanpa penalti, kami pasti finis P8," tambahnya.

Baca Juga Red Bull Beri Tes F1 Perdana untuk Nikola Tsolov

Lindblad tidak sendirian dalam menilai hukumannya terlalu berat. Jurnalis dan pundit F1TV, Alex Brundle, sependapat. "Menurut saya ini keras. Cara yang diterima pembalap adalah jika Anda menghindari kecelakaan, Anda fokus menghindar dan melakukan segala yang bisa Anda lakukan agar tidak menjadi bagian dari insiden. Sulit untuk kemudian menuntut pembalap juga harus sadar akan hal-hal ekstra selama insiden untuk memastikan mereka tidak menyalip mobil lain sebagai konsekuensi sekunder," jelas Brundle.

Keputusan ini memicu perdebatan tentang interpretasi aturan bendera kuning ganda, terutama dalam situasi balapan yang kacau. Apakah hukuman seperti itu adil ketika pembalap hanya berusaha bertahan dari insiden? Pertanyaan ini mungkin akan terus mengemuka di sisa musim.