Banten, Nusantara Media - Gunung Anak Krakatau mengalami aktivitas vulkanik ringan berupa tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo antara 0.5-2.5 mm, dominan 1 mm. Tidak ada asap kawah yang teramati secara visual, dan tidak ada keterangan tambahan signifikan (nihil). Tingkat aktivitas tetap pada Level II (Waspada), yang menandakan potensi bahaya meski tidak ada erupsi langsung.
Laporan ini disusun oleh Rioboniek Situmorang dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau. Sumber data berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Badan Geologi, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Rekomendasi ditujukan kepada masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki untuk menjaga keselamatan.
Periode pengamatan berlangsung pada 13 Februari 2026 pukul 00:00 hingga 24:00 WIB. Data ini dirilis tepat setelah pengamatan, dengan kondisi cuaca yang mendukung selama periode tersebut.
Gunung Anak Krakatau terletak di Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dengan ketinggian 157 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kawasan pengamatan mencakup radius sekitar gunung, termasuk potensi dampak ke arah timur laut, timur, dan selatan akibat arah angin.
Aktivitas ini merupakan bagian dari dinamika vulkanik alami Gunung Anak Krakatau, yang dikenal sebagai gunung api aktif di Selat Sunda. Tingkat waspada diberlakukan karena potensi peningkatan aktivitas mendadak, meski saat ini tremor hanya menunjukkan getaran ringan tanpa tanda erupsi. Faktor meteorologi seperti cuaca cerah dan berawan dengan suhu 23.8-31.5 °C serta kelembaban 74.5-99.3% memungkinkan pengamatan yang akurat, tetapi angin lemah hingga sedang ke timur laut, timur, dan selatan dapat memengaruhi penyebaran abu jika erupsi terjadi.
Pengamatan dilakukan melalui pemantauan visual dan kegempaan. Secara visual, gunung terlihat jelas hingga tingkat kabut rendah (0-I), tanpa asap kawah. Kegempaan mencatat tremor menerus menggunakan peralatan seismograf. Rekomendasi diberikan untuk mencegah risiko, yaitu larangan mendekati atau beraktivitas dalam radius 2 km dari kawah aktif, guna menghindari potensi letusan mendadak atau paparan gas vulkanik
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!