Pembalap asal Amerika Serikat Colton Herta harus menghadapi kenyataan pahit setelah dirinya dipastikan masih kurang satu poin untuk memenuhi syarat lisensi super Formula 1 akibat kesalahan perhitungan yang cukup membingungkan. Meskipun demikian, kesempatan turun ke lintasan dalam sesi latihan bebas pertama (FP1) bersama tim Cadillac di GP Meksiko tetap menjadi sebuah momen krusial untuk mengevaluasi potensinya sebagai kandidat kuat pengganti Valtteri Bottas pada musim balap tahun depan. Kesalahan penghitungan poin lisensi super tersebut sempat diverifikasi oleh pihak FIA pada waktunya, membuat Herta keliru mengira bahwa menuntaskan 30 lap dalam penampilan FP1 kelimanya musim ini sudah cukup untuk mengantarkannya melewati ambang batas 40 poin yang selama ini ia buru.

"Saya tadinya sedang berjalan untuk melakukan tugas media setelah FP2, itu adalah pertama kalinya saya mendengar tentang masalah ini," ujar Herta mengungkapkan kebingungannya pada Jumat malam usai sesi latihan. Ia menambahkan bahwa sebelum akhir pekan dimulai, dirinya meyakini bahwa menempuh jarak 100 kilometer di sesi latihan bebas akan langsung menggenapkan perolehan poinnya menjadi 40. Oleh karena itu, ia mengaku masih harus menunggu kejelasan lebih lanjut setelah pihak tim menyelesaikan serangkaian evaluasi internal dan pertemuan teknis.

Pihak tim sendiri sebenarnya telah melangkah lebih jauh dari ketentuan wajib empat kali sesi latihan untuk pembalap debutan dengan memberikan kesempatan kelima kepada Herta di Meksiko demi membantunya mengamankan tambahan poin krusial tersebut. Rencana awal tim bahkan memang sudah memproyeksikannya turun kembali ke trek untuk mengamankan poin terakhir sebelum kekeliruan penghitungan administratif ini mendadak mencuat ke permukaan publik. Namun, penampilan di Meksiko sama sekali bukan sekadar sesi jalan-jalan santai bagi Herta demi memenuhi syarat jarak 100 kilometer semata, melainkan sebuah program pengujian komprehensif.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam sesi latihan tersebut, Herta mendapatkan program kerja yang sangat mirip dengan program milik Sergio Perez, yang digadang-gadang akan menjadi rekan setimnya pada musim 2027 mendatang apabila ia sukses mengamankan kursi balap milik Bottas. Analisis perbandingan performa di atas lintasan memperlihatkan dinamika menarik antara kedua pembalap. Pada awal sesi FP1, Herta langsung melahap 11 putaran menggunakan ban kompon keras dengan catatan waktu terbaik 1 menit 22,452 detik, yang terpaut 1,067 detik lebih lambat dibandingkan catatan waktu Perez menggunakan ban yang sama.

Komunikasi radio antara Herta dan teknisinya sempat menyoroti area tikungan pertama di mana sang pembalap merasa masih menyisakan banyak potensi yang belum tergali. Namun, data telemetri justru menunjukkan fakta sebaliknya bahwa ia sebenarnya justru lebih cepat di sektor tersebut ketimbang Perez, sementara waktu berharganya justru terbuang sia-sia di sektor dua dan tiga. Pola serupa terus berlanjut ketika keduanya beralih menggunakan ban kompon medium, di mana Herta menjalani stint beruntun yang hanya diselingi oleh pit stop singkat guna melakukan penyesuaian mikro pada sayap depan.

Baca Juga Kimi Antonelli Rebut Pole F1 GP AS Usai Ungguli Mercedes

Catatan waktu terbaik pribadi Herta tercipta pada paruh kedua pengujian ban medium tersebut dengan torehan 1 menit 21,365 detik di atas ban yang sudah menempuh tujuh putaran. Sebagai perbandingan langsung, Perez mampu mencatatkan waktu tercepatnya pada saat ban medium baru berusia tiga putaran saja dalam stint pertamanya. Selisih waktu secara keseluruhan antara kedua pembalap berada di angka 0,970 detik, dan jika catatan sektor terbaik Herta digabungkan secara optimal, selisih tersebut dapat dipangkas tipis menjadi 0,817 detik dari Perez.

Tantangan terbesar bagi Herta terlihat jelas di area kompleks tikungan lambat, terutama pada tikungan 10 dan 11 yang berkarakter kanan-kekiri, di mana ia sempat terpaksa membatalkan satu putaran akibat memotong tikungan terlalu dalam serta merusak catatan waktu lainnya karena melebar. Dirinya mengeluhkan gejala understeer yang cukup besar di hampir seluruh tikungan lambat, termasuk kesulitan saat mengatur kecepatan minimum jelang masuk ke tikungan 12 menuju area stadion yang membuat catatan kecepatan minimumnya terpaut hingga 13 kilometer per jam di bawah Perez.