Yuki Tsunoda kembali mendapat kesempatan di Formula 1 akhir pekan ini di Madrid, menggantikan Liam Lawson di Racing Bulls, sementara Lawson sendiri mengisi kursi Red Bull Racing untuk menggantikan Isack Hadjar yang cedera. Namun, sorotan tertuju pada pengakuan jujur Tsunoda tentang kesulitannya beradaptasi dengan generasi mobil F1 2026, terutama setelah balapan di Monza.

Pembalap Jepang itu sebelumnya tampil cukup mulus di Zandvoort, finis di luar poin namun di depan rekan setimnya, Arvid Lindblad. Akan tetapi, di Grand Prix Italia, performanya jauh dari harapan. Ia kesulitan bersaing dengan Lindblad sepanjang sesi latihan dan kualifikasi, lalu salah posisi di grid saat balapan dimulai ulang. Ia finis ke-10, tetapi hasil itu masih dalam proses protes dari Audi yang menilai Tsunoda seharusnya mendapat penalti karena memaksa lap formasi tambahan.

“Saya cenderung sering lupa SM [Straightline Mode] minggu lalu, terutama dari Tikungan 8 hingga 10,” ujar Tsunoda di Madrid. “Ada lebih banyak titik aktivasi dibanding tahun lalu. Dan juga, banyak pekerjaan yang harus saya lakukan di out-lap, untuk tidak menggunakan energi. Tapi jelas, jika tidak menggunakan energi, ban akan dingin, jadi kadang Anda ingin agresif di tempat yang tepat. Anda ingin memulai lap dengan baterai 100%, tapi pengorbanan di mana, di mana tidak, sangat rumit – dan itu yang saya kacaukan cukup banyak di kualifikasi. Konsekuensinya besar.”

- Advertisement -
Advertisement

Mobil F1 2026 memang lebih rumit dioperasikan dibanding generasi sebelumnya. Distribusi tenaga yang hampir 50:50 antara motor listrik dan mesin pembakaran internal menuntut gaya mengemudi yang sering kontra-intuitif, tidak selalu memaksimalkan kecepatan tikungan, ditambah dengan pengoperasian aerodinamika aktif. Untuk mendapatkan 'lap optimal', pembalap harus memposisikan throttle secara spesifik, bukan improvisasi, agar tidak membingungkan algoritma machine learning yang memetakan deployment daya listrik ideal sepanjang lap.

Monza menambah komplikasi karena layoutnya hanya memberikan sedikit kesempatan untuk meregenerasi energi. Lap cepat membutuhkan slipstream dan pemahaman mendalam tentang cara memanfaatkan tenaga listrik yang terbatas. “Ini seperti Anda harus lebih banyak melihat monitor di setir,” kata Tsunoda. “Entah bagaimana, Anda juga harus lebih sensitif pada throttle, terutama di out-lap. Ini aneh, terutama di out-lap.”

Baca Juga Tsunoda Lolos Sanksi, Poin GP Italia Tetap Aman

Kesulitan Tsunoda menyoroti tantangan besar yang dihadapi semua pembalap di era baru F1. Tim-tim seperti Racing Bulls harus beradaptasi dengan cepat, sementara pembalap yang tidak memiliki banyak waktu di simulator harus belajar dari kesalahan. Madrid akan menjadi ujian berikutnya, dan Tsunoda berharap bisa memanfaatkan pengalaman pahit di Monza untuk tampil lebih baik.

“Saya pikir saya belajar banyak dari akhir pekan itu,” tambahnya. “Tapi saya harus lebih teliti, terutama dalam mengelola energi dan memahami batas mobil. Ini bukan hanya soal kecepatan, tapi juga strategi dan konsistensi.”

Yuki Tsunoda di Monza
Yuki Tsunoda tampil di GP Italia (Foto: Alex Bierens de Haan / LAT Images via Getty Images)