Cilegon, Nusantara Media– Insiden Man Over Board (MOB) atau jatuhnya penumpang ke laut kembali terjadi di jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia, Merak–Bakauheni. Memasuki hari keempat pada Sabtu (1/8/2026), Tim SAR Gabungan belum mengendurkan semangat dan terus mengintensifkan operasi pencarian di sekitar Perairan Pulau Tempurung, Selat Sunda. Target pencarian adalah seorang penumpang kapal feri KMP Kirana II yang diduga kuat sengaja melompat ke laut lepas.
Berdasarkan data yang dihimpun, korban diketahui bernama M. Andreas Lingsing, seorang pemuda berusia 26 tahun yang tercatat sebagai warga Bandar Lampung. Hingga berita ini diturunkan, teka-teki mengenai keberadaan serta motif korban melompat dari atas kapal masih menjadi misteri yang menyelimuti perairan Selat Sunda.
Untuk mengoptimalkan peluang penemuan korban, komando operasi SAR membagi armada dan personel ke dalam dua Unit Pencarian dan Pertolongan (Search and Rescue Unit/SRU) yang bergerak secara simultan dan terpadu.
Tim SRU I yang menjadi garda terdepan di perairan terbuka dikerahkan menggunakan kapal penyelamat andalan, KN SAR Tetuka. Kapal ini ditugaskan untuk melakukan penyisiran cermat pada area seluas 11 Nautical Mile persegi (NM²). Manuver penyisiran ini mencakup total lintasan pencarian sejauh 24 NM dengan jarak antarlintasan (track spacing) rapat sekitar 1 NM. Di sisi lain, pergerakan SRU II difokuskan menyisir area yang lebih spesifik seluas 4 NM² menggunakan Rubber Boat atau perahu karet, dengan total lintasan mencapai 12 NM.
Di tengah penyisiran yang intens, suasana operasi sempat menegang pada pukul 07.15 WIB. Vessel Traffic Service (VTS) Merak menerima laporan mendesak dari kapal Bulk Halmahera yang tengah melintas. Awak kapal tersebut melaporkan melihat sesosok objek menyerupai mayat manusia tanpa mengenakan baju mengapung di titik koordinat 05°57.578'S - 105°57.745'E.
Menindaklanjuti sinyal darurat tersebut, KN SAR Tetuka langsung memutar haluan dan melesat menuju lokasi yang dilaporkan untuk melakukan pengecekan visual. Sekitar pukul 08.30 WIB, armada penolong tiba di titik koordinat tersebut. Sayangnya, setelah tim melakukan observasi dan pemeriksaan menyeluruh di area sekitar, objek yang dimaksud tidak berhasil ditemukan. Laporan tersebut dinyatakan nihil, dan tim kembali ke pola pencarian awal.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten, Al Amrad, S.Sos, menegaskan bahwa pantang menyerah adalah prinsip utama dalam operasi kemanusiaan ini. Ia memastikan bahwa evaluasi terus dilakukan guna menyempurnakan strategi di lapangan.
"Tim SAR Gabungan akan terus berupaya maksimal dalam proses pencarian dengan mengoptimalkan seluruh potensi SAR yang terlibat. Evaluasi harian terus kami lakukan untuk menentukan strategi pencarian yang paling efektif hingga korban dapat segera ditemukan," tegas Al Amrad usai proses debriefing pada Sabtu sore.
Operasi SAR berskala besar ini bukan hanya kerja satu instansi. Kolaborasi kuat terjalin antara Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, kru KN SAR Tetuka, VTS Merak, Lanal Banten, Polairud Polda Banten, BMKG Serang, hingga BPBD dan Banser Kota Cilegon. Tidak tertinggal, pihak pengelola Pulau Merak Besar dan keluarga korban turut andil memantau jalannya operasi.
Dukungan infrastruktur pencarian juga dikerahkan secara penuh, mulai dari Rescue Car, Rubber Boat, perlengkapan SAR air khusus, peralatan medis, hingga sistem komunikasi canggih untuk memapelkan informasi ke kapal-kapal niaga di sekitar Selat Sunda.
Didukung oleh prakiraan cuaca yang cerah berawan, Tim SAR Gabungan berkomitmen untuk kembali menyisir Selat Sunda pada operasi hari kelima, Minggu, 2 Agustus 2026, yang akan dimulai tepat pada pukul 07.00 WIB. Publik berharap usaha tak kenal lelah dari para pahlawan kemanusiaan ini segera membuahkan hasil.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!