Ketika Toto Wolff menggelar sesi media tahunannya bersama sekelompok jurnalis Belanda di Zandvoort, salah satu topik yang mengemuka adalah bagaimana sebuah tim Formula 1 bisa memaksimalkan performa pembalapnya—dan seberapa besar kebebasan yang seharusnya diberikan seorang prinsipal tim kepada bintangnya. Contoh terbaru tentu saja Max Verstappen yang mendapat keleluasaan luar biasa di Red Bull, termasuk membalap di ajang lain seperti Nurburgring 24 Hours dengan Mercedes-AMG GT3.

Wolff menjawab dengan hampir filosofis. Baginya, setiap tim berbeda, dan tugas seorang prinsipal adalah mengidentifikasi apa yang membuat pembalapnya cepat dalam struktur yang ada. "Saya tidak pernah menempatkan pembalap dalam kotak, dan tidak pernah berkata 'kamu harus begini'," ujarnya. Baginya, kesejahteraan pembalap adalah kunci untuk mengekstrak performa terbaik.

Pikiran Wolff langsung melayang pada contoh paling jelas dari kebebasan yang pernah ia berikan: Lewis Hamilton dan kecintaannya pada fashion, tepatnya menjelang Grand Prix Singapura 2018. Saat itu Hamilton meluncurkan koleksi Tommy Hilfiger-nya dengan peragaan busana di Shanghai pada 4 September, lalu terbang ke New York untuk New York Fashion Week—semua di tengah padatnya jadwal balap.

- Advertisement -
Advertisement

"Niki Lauda berkata kepada saya saat itu, 'Toto, bagaimana kau bisa membiarkan ini? Kita balapan di Singapura minggu depan'," kenang Wolff. Namun Wolff melihatnya berbeda. "Saya pikir, jika dia bisa tampil di catwalk dan memberikan performa seperti itu di atas lintasan, mengapa tidak?"

Baca Juga Format Sprint F1 2026: Cara Kerja dan Aturan Terbaru

Hasilnya? Hamilton mengambil pole position dengan lap yang dianggap salah satu yang terbaik dalam sejarah F1, mengalahkan Sebastian Vettel dan Max Verstappen. "Itu adalah salah satu lap terbaik yang pernah saya lihat," kata Wolff. "Dan itu terjadi setelah dia sibuk dengan fashion show-nya. Jadi, mungkin kebebasan itulah yang membuatnya cepat."

Wolff menegaskan bahwa setiap pembalap punya kebutuhan berbeda. "Max punya kebebasannya, Lewis punya kebebasannya. Tugas saya adalah memahami kepribadian mereka dan memberikan lingkungan yang tepat. Itu bukan soal mengontrol, tapi soal memfasilitasi."