Pembatasan anggaran atau cost cap di ajang Formula 1 telah berhasil mendekatkan jarak performa antar tim dan mencegah dominasi finansial dari skuad pabrikan besar. Kendati demikian, aturan ketat tersebut kini mulai membebani aspek sumber daya manusia di balik layar. Bos Mercedes, Toto Wolff, secara terbuka mengungkapkan bahwa timnya sempat mengajukan proposal kepada Federasi Automobil Internasional (FIA) untuk mendapatkan kelonggaran anggaran khusus guna menaikkan gaji staf junior yang terdampak regulasi finansial ini.
Dilansir dari Motorsport.com, isu mengenai tekanan finansial ini mencuat selama sesi latihan bebas ketiga di Grand Prix Brasil. Pakar Sky Sports F1, Naomi Schiff, mengangkat pembahasan dari pimpinan Williams, James Vowles, mengenai komponen mobil yang dipaksa mendekati batas jarak tempuh maksimal. Hal tersebut memicu gelombang penalti mesin yang masif di sirkuit Interlagos, melibatkan sejumlah pembalap papan atas dunia.
Menanggapi situasi tersebut, Toto Wolff tidak hanya membenarkan adanya tekanan operasional, tetapi juga membeberkan realitas pahit yang harus dihadapi oleh markas Brackley. Menurutnya, batasan anggaran membuat tim tidak bisa membawa semua sasis lama ke musim berikutnya, sehingga beberapa komponen bersejarah terpaksa harus dihancurkan. Setiap kontestan kini berada di bawah tekanan finansial yang luar biasa ketat demi mematuhi regulasi yang berlaku.
"Ya, tentu saja. Maksud saya, kita tahu mengapa pembatasan anggaran itu terjadi," ujar Wolff menjelaskan kepada awak media Sky Sports saat membahas kondisi operasional tim yang berada di ujung tanduk.
"Namun, kami berada di ambang batas yang membuat segalanya akan lebih baik jika ada tambahan kelonggaran. Dalam kasus kami, kami tidak dapat membawa semua sasis ke tahun depan. Beberapa harus dipotong-potong," imbuhnya dengan nada menyayangkan.
"Sangat menyedihkan ketika Anda melihat rekam jejak mobil-mobil ini. Jadi setiap tim berada di bawah tekanan. Ini sama untuk semua orang," tambah Wolff.
Kendati pemotongan komponen serat karbon merupakan sebuah kerugian emosional dan material, keluhan terbesar Wolff justru tertuju pada dampak pembatasan anggaran terhadap kesejahteraan para pekerja muda. Industri balap mobil bergengsi ini sangat bergantung pada para lulusan teknik muda brilian yang menghabiskan jam kerja masif untuk mengembangkan kendaraan. Namun, regulasi anggaran justru menekan angka kompensasi yang layak bagi mereka.
Baca Juga Masalah Honda yang Hancurkan Kualifikasi Alonso di Monza TerungkapWolff menegaskan bahwa Mercedes secara aktif telah melobi pihak pengatur untuk memperbaiki masalah kesejahteraan karyawan ini agar tidak merugikan generasi insinyur masa depan yang baru meniti karier di paddock.
"Saya sangat ingin memiliki sedikit peningkatan. Gagasan yang kami miliki adalah untuk personel junior yang bergabung dengan tim, agar kami memiliki lebih banyak kelonggaran untuk membayar mereka lebih baik. Dan gaji mereka tidak tertekan dalam lima, enam, tujuh tahun pertama," ungkap Wolff secara transparan.
Pimpinan tim asal Jerman tersebut ingin memastikan bahwa badan pengatur memahami niat di balik proposal tersebut. Langkah ini sama sekali bukan celah tersembunyi untuk mengakali pengembangan komponen aerodinamika seperti sayap depan, melainkan murni upaya kemanusiaan agar staf muda mendapatkan bayaran yang adil sesuai dengan jam kerja ekstrem yang mereka curahkan untuk kejuaraan.
"Jadi kami telah mengajukan itu kepada FIA untuk memberi kami kelonggaran, bukan untuk sayap depan tambahan, tetapi kelonggaran bagi gaji untuk naik sedikit. Karena pembatasan anggaran menekan semua itu," tutupnya.

Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!