Toprak Razgatlioglu mengalami salah satu akhir pekan terberatnya di MotoGP Austria. Pebalap Pramac itu finis kedua dari belakang, 46,7 detik di belakang pemenang, dan mengaku sempat berpikir untuk masuk pit karena kehilangan grip sepanjang balapan.

Red Bull Ring memang menjadi neraka bagi Yamaha. Fabio Quartararo tampil impresif dengan finis kesembilan di kualifikasi, tetapi balapan 28 lap berubah menjadi mimpi buruk. Quartararo menjadi pebalap Yamaha terbaik di posisi 17, di luar zona poin. Razgatlioglu finis kedua terakhir, 12 detik di belakang Alex Rins, sementara Jack Miller hampir 70 detik dari juara.

“Balapan Terburuk Kedua dalam Hidup Saya”

Razgatlioglu mengungkapkan bahwa ia mengalami masalah traksi sejak awal. “Saya sangat terkejut, karena di lima lap pertama saya sudah tidak merasakan grip,” ujarnya. “Saya hanya merasakan spin. Saya benar-benar marah di atas motor karena saya bertanya pada diri sendiri, ‘Ini ban baru, tapi bagaimana mungkin tidak ada grip sejak awal?’”

- Advertisement -
Advertisement

Ia menambahkan, “Saya melihat Fabio bisa melaju dengan baik, tapi pada akhirnya ban drop. Itu kami duga. Tapi di awal, biasanya tidak seperti ini. Kemarin kami melaju dengan baikg tapi hari ini kami lebih kesulitan: jika motor tidak punya grip, kami tidak punya akselerasi.”

Pada enam lap terakhir, Razgatlioglu benar-benar frustrasi. “Saya bertanya pada diri sendiri, ‘Bagaimana mungkin bisa menyelesaikan balapan?’ karena di lintasan lurus hanya spin. Dari keluar tikungan pertama, saat saya menegakkan motor, saya hanya spin. Di mana-mana, saya merasakan spin di enam lap terakhir.”

Baca Juga Brivio Yakin Aprilia Potong Jarak ke Ducati: Dominasi Bologna Mulai Goyang di MotoGP 2025?

Ia menyebut balapan ini sebagai yang terburuk kedua dalam hidupnya, setelah Thailand. “Satu lagi terjadi tahun ini, di Thailand. Saya merasakan hal yang sama, tanpa grip. Di sini, bannya sama, jadi sangat aneh. Kemarin kami bisa mengatasinya. Tapi hari ini, saya tidak mengharapkan ini.”

Razgatlioglu mengaku sempat berpikir untuk masuk pit. “Saya berpikir untuk masuk ke box. Tapi saya cukup menghormati Yamaha untuk terus berkendara, karena pace-nya bencana. Saya hanya mencoba menyelesaikan balapan, tapi saya tidak menikmatinya sama sekali. Saya pikir semua Yamaha mengalami hal yang sama.”

Hasil ini menjadi pukulan telak bagi Yamaha yang tengah berjuang mengembangkan motor. Dengan performa seperti ini, mereka harus segera mencari solusi sebelum jarak dengan rival semakin melebar.