Pandeglang Nusantara Media — Suasana semarak dan penuh antusiasme mewarnai SDN Kalanganyar 01, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.
Puluhan pasang mata tertuju pada penampilan memukau para siswa sekolah dasar yang tengah berkompetisi dalam ajang bergengsi, Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Tingkat Kecamatan Labuan Tahun 2026.
Tahun ini, gelaran tersebut mengusung tema besar yang sangat relevan dengan tantangan zaman: "Membentuk Generasi Islami, Cerdas, dan Berakhlakul Karimah". Tidak tanggung-tanggung, seluruh elemen pendidikan dasar di wilayah tersebut turun gunung.
Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI Kecamatan Labuan sekaligus Kepala SDN Sukamaju 1, Ahmad Suhaemi, S.Pd.I., mengungkapkan bahwa partisipasi tahun ini sangat luar biasa. Tercatat ada 26 sekolah, terdiri dari 25 SD Negeri dan 1 SD Swasta, yang mengirimkan talenta-talenta terbaik mereka.
"Setiap sekolah mengirimkan tiga duta terbaiknya. Sehingga total ada 75 siswa SD yang beradu kemampuan dalam seleksi tingkat kecamatan ini," ujar Ahmad Suhaemi di sela-sela acara.
Tiga Kategori Bergengsi
Para peserta cilik ini tidak sekadar berlomba, melainkan mensyiarkan agama melalui tiga kategori utama, yakni:
1. Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ): Menguji keindahan dan kebenaran tajwid dalam melantunkan ayat suci.
2. Musabaqah Hafalan Al-Qur'an (MHQ): Menguji daya ingat dan kelancaran hafalan surat-surat pendek.
3. Pidato Da'i Cilik (Pildacil): Mengasah keberanian dan teknik retorika dakwah di depan mimbar.
"Yang akan tampil di tingkat kabupaten nanti hanya yang berpredikat juara pertama atau yang terbaik di masing-masing kategori. Jadi, akan ada satu juara MTQ, satu dari MHQ, dan satu dari Pildacil yang membawa nama Kecamatan Labuan," jelas Suhaemi.
Lebih dari sekadar ajang kompetisi, Pentas PAI yang berafiliasi dengan program Kementerian Agama ini memiliki visi jangka panjang.
"Melalui lomba ini, anak-anak diajarkan untuk tidak hanya membaca, tetapi mencintai Al-Qur'an, memahami maknanya, serta memiliki keberanian mental untuk menyampaikan dakwah sejak usia dini," tambah Suhaemi.
Untuk menjaga muruah kompetisi dan menjamin kualitas pemenang yang akan berlaga di tingkat Kabupaten Pandeglang hingga Provinsi Banten, panitia menerapkan sistem penjurian yang sangat objektif.
Panitia sengaja mendatangkan dewan juri independen dari luar kecamatan. Juri untuk kategori MTQ diisi oleh Ketua KKG PAI dari kecamatan tetangga serta Qari berpengalaman tingkat provinsi dan kabupaten.
Sementara itu, untuk kategori MHQ, penilaian dipercayakan kepada para asatidz dari Rumah Tahfidz Baitul A'la PLTU 2 Labuan.
Menariknya, sistem penilaian dilakukan secara blind judging. Peserta tampil murni hanya menggunakan nomor urut, tanpa menyebutkan nama maupun asal sekolah. Hal ini dilakukan demi memastikan objektivitas mutlak di meja dewan juri.
Dengan semangat sportivitas dan nilai-nilai Islami yang kental, ajang Pentas PAI Labuan 2026 ini diharapkan tidak hanya melahirkan juara di atas kertas, tetapi juga generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia di dunia nyata.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!