Serang, Nusantara Media – Tradisi tahunan Seba Baduy kembali digelar pada 24 hingga 26 April 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang. Kegiatan ini menjadi puncak ritual adat masyarakat Baduy setelah masa panen, sekaligus wujud silaturahmi antara masyarakat adat dengan pemerintah. Sebanyak 1.552 warga Baduy dari Desa Kanekes turut ambil bagian dalam prosesi ini.

Dari jumlah tersebut, tercatat sekitar 63 orang merupakan Baduy Dalam, sementara sekitar 1.489 orang lainnya adalah Baduy Luar  yang ikut serta dalam perjalanan menuju pusat pemerintahan dengan berjalan kaki sambil membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur dan ketaatan.

Seba Baduy merupakan bagian dari rangkaian adat pascapanen yang dikenal sebagai Ngalaksa. Tradisi ini tidak hanya memiliki makna spiritual, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dalam pelaksanaannya, masyarakat Baduy menyerahkan hasil bumi seperti padi dan hasil hutan kepada pemerintah sebagai bentuk penghormatan dan simbol hubungan harmonis yang telah terjalin sejak lama.

- Advertisement -

Puncak acara berlangsung pada malam hari di Gedung Negara Provinsi Banten dengan suasana khidmat dan penuh makna. Prosesi adat dimulai dengan pembukaan sebagai tanda diterimanya masyarakat Baduy oleh pemerintah. Selanjutnya, perwakilan tokoh adat menyampaikan amanat leluhur yang berisi pesan moral dan filosofi hidup masyarakat Baduy. Dalam kesempatan tersebut, hasil bumi diserahkan secara simbolis kepada pemerintah daerah sebagai bentuk ketaatan sekaligus rasa syukur atas hasil panen yang telah diperoleh.

Gubernur Banten, Andra Soni, menerima langsung kehadiran masyarakat Baduy dan menyampaikan apresiasi atas konsistensi mereka dalam menjaga tradisi serta kelestarian lingkungan. Pemerintah menilai bahwa nilai-nilai yang dijunjung masyarakat Baduy relevan dengan upaya pelestarian alam di tengah tantangan modernisasi yang semakin kompleks.

Pesan utama yang disampaikan dalam Seba Baduy 2026 kembali menegaskan pentingnya menjaga alam. Filosofi yang diwariskan secara turun-temurun, “Gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak,” menjadi inti dari amanat yang disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat luas. Nilai ini mencerminkan prinsip hidup masyarakat Baduy yang menempatkan alam sebagai bagian yang harus dijaga, bukan dieksploitasi.

Dengan mengusung tema “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat,” Seba Baduy 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran kolektif tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga pesan universal yang relevan bagi kehidupan modern. Melalui perjalanan panjang yang ditempuh dengan berjalan kaki, masyarakat Baduy kembali menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga adat, menghormati pemerintah, serta merawat alam sebagai sumber kehidupan.