Lance Stroll baru saja mencatatkan sesuatu yang belum pernah dilakukan pembalap Formula 1 lain—namun rekor itu jelas bukan sesuatu yang ingin ia banggakan. Pebalap Aston Martin itu menjadi yang pertama dalam sejarah F1 yang mencapai 100 kali tersingkir di Q1 sejak sistem kualifikasi tiga bagian diperkenalkan pada 2006.

Insiden itu terjadi di kualifikasi Grand Prix Italia di Monza, di mana Stroll hanya mampu menempati posisi ke-22 dan menjadi yang tercepat. Ia tertinggal kurang dari sepersepuluh detik dari rekan setimnya, Fernando Alonso, yang start tiga posisi di depannya di urutan ke-19.

Stroll pertama kali merasakan tersingkir di Q1 pada debut Grand Prix-nya bersama Williams di Australia 2017. Kini, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, pembalap Kanada berusia 27 tahun itu memegang rekor F1 yang tidak akan membuat rivalnya iri.

- Advertisement -
Advertisement

Setelah sesi kualifikasi yang mengecewakan, Stroll terlihat tidak antusias dalam wawancara singkat yang hanya berlangsung 44 detik. "Sudah seperti yang kami perkirakan dengan mesin," ujarnya datar. "Kami tertinggal tiga detik, jadi besok kami tidak akan bisa bertahan dengan rombongan."

Aston Martin memang konsisten kekurangan tenaga di Monza dibandingkan rival-rivalnya. Data kecepatan menunjukkan defisit mengejutkan hingga 20 km/jam dibandingkan mobil Mercedes. Yang lebih mengkhawatirkan, hal ini terjadi meskipun Honda telah membawa mesin F1 yang ditingkatkan di Grand Prix Belanda pekan lalu.

Baca Juga Mercedes Beri Penghormatan untuk Anggota Tim yang Meninggal di GP Belanda

Sementara itu, di sisi garasi yang lain, Alonso hanya bisa menyelesaikan satu putaran cepat di Q1 karena masalah teknis yang masih diselidiki Aston Martin. "Kami sedang menyelidiki masalah pada mobil yang membuat kami tertahan di garasi di akhir Q1," kata juara dunia dua kali itu. "Kami kehilangan kesempatan untuk menggunakan ban baru, yang membuat kualifikasi kami terpotong dan tidak bisa meningkatkan waktu putaran. Kami tahu kami tertinggal dari pesaing, terutama kurangnya kecepatan di lintasan lurus, yang membuat sirkuit ini sangat sulit."

Dengan defisit performa yang begitu besar, Aston Martin tampaknya akan menghadapi balapan yang sulit di Monza. Meski demikian, tim asuhan Lawrence Stroll itu tetap berharap dapat memanfaatkan strategi untuk memperbaiki posisi, meski peluang untuk bersaing dengan tim papan atas tampak tipis.