Manajemen tim Tickford mengungkapkan rasa kekecewaan mendalam atas keputusan mendadak yang diambil oleh penyelenggara Supercars terkait penyesuaian regulasi teknis pada ajang Super2. Menjelang putaran penalti di Sirkuit Sandown, otoritas balap secara sepihak memutuskan untuk memodifikasi komponen sayap belakang atau bootlid gurney pada kendaraan Holden Commodore ZB. Kebijakan ini diklaim bertujuan untuk meningkatkan stabilitas kecepatan tinggi, namun langsung memicu reaksi keras dari kubu rival utama mereka yang mengandalkan pabrikan biru oval.
Perubahan regulasi ini disinyalir lahir dari analisis data mendalam, uji coba landasan pacu, serta sesi pengujian lintasan yang melibatkan mobil Eggleston Motorsport Holden di Sandown pada pekan sebelumnya. Tinjauan kesetaraan performa atau paritas tersebut dilakukan menyusul seringnya terpicunya sistem era 2022 di ajang Super2, yang mengambil catatan waktu putaran dari enam mobil tercepat di setiap pabrikan dalam sesi balapan. Keputusan ini dinilai semakin mengaburkan batas antara keadilan sportif dan teknis yang sebelumnya sudah menjadi sorotan hangat menyusul berbagai penyesuaian pada mobil generasi ketiga di kelas utama.
Manajer Tim Tickford, Matt Roberts, secara terbuka meluapkan kekecewaannya terhadap prosedur birokrasi dan komunikasi yang dinilai sangat tidak transparan. Menurutnya, dominasi Holden ZB yang sukses menyabet dua gelar juara beruntun melawan Ford Mustang S650 di kelas utama, serta mendominasi dua musim perdana Super2 pada 2023 dan 2024, tidak pernah menjadi persoalan besar. Namun, begitu pabrikan Ford mulai menunjukkan taring dan mendominasi persaingan gelar musim ini, perubahan aturan mendadak langsung diberlakukan tanpa ruang diskusi yang memadai.
Dalam keterangannya kepada Speedcafe, Roberts mengaku sangat terkejut saat menerima panggilan telepon dari pihak Supercars pada Kamis yang memberitahukan tentang keputusan final tersebut. Ia menyayangkan ketidaktahuan timnya mengenai agenda uji coba lintasan yang digelar sehari sebelumnya, yang seharusnya bisa dihadiri oleh mereka untuk dijadikan tolok ukur atau referensi teknis yang adil. Bagi Tickford, cara penanganan dan dikte keputusan tanpa ruang argumen ini mencerminkan buruknya manajemen komunikasi dari otoritas balap menjelang akhir pekan lomba yang krusial.
Baca Juga FIA Minta Masukan Penggemar untuk Masa Depan Balap Mobil TurDi sisi lain, tim-tim pengguna Holden di ajang Super2 memang telah lama mendesak adanya perubahan regulasi sejak akhir tahun lalu, menyusul dominasi kuat operasi empat mobil Tickford serta afiliasi mereka seperti Blanchard Racing Team sepanjang musim 2025. Meskipun sejumlah kemenangan sempat direbut oleh kubu Holden lewat aksi gemilang Aaron Love di Perth dan Brad Vaughan di Bathurst, kubu Ford merasa kerja keras dan investasi sumber daya besar yang mereka curahkan justru berbalik menjadi sebuah hukuman regulasi yang merugikan.
Kendati demikian, di tengah kekecewaan yang meluas atas keputusan kontroversial tersebut, kubu Tickford menegaskan bahwa insiden ini justru melipatgandakan motivasi para teknisi dan pembalap di garasi mereka. Fokus utama saat ini tetap disarikan pada kerja keras menghadapi akhir pekan di Sandown, di mana pembalap BRT Ford Lochie Dalton memimpin klasemen sementara dengan 1059 poin, dibayangi ketat oleh Brad Vaughan serta kuartet pembalap Tickford lainnya seperti Nash Morris dan Campbell Logan yang siap bertarung habis-habisan di atas lintasan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!