PANDEGLANG, Nusantara Media – Di balik derap pembangunan yang kian pesat, potret memilukan kemiskinan ekstrem masih terselip di sudut Kabupaten Pandeglang, Banten. Marbeah (65), seorang janda lanjut usia, kini harus mempertaruhkan nyawa setiap kali langit mendung.
Ia menetap di sebuah hunian yang kondisinya sudah sangat kritis dan nyaris rata dengan tanah. Berlokasi di Kampung Dukuh Timur RT 05 /01, Desa Bojong, rumah yang menjadi satu-satunya tempat bernaung bagi Marbeah dan anak semata wayangnya, Mohammad Riyan, sudah jauh dari kata layak huni.
Dinding kayu yang dimakan usia tampak rapuh, keropos, hingga berlubang di sana-sini. Bagi Marbeah, hujan bukan lagi sekadar berkah, melainkan ancaman nyata bagi keselamatannya. Saat butiran air mulai membasahi bumi, ia hanya bisa pasrah sembari menahan cemas.
Atap yang bocor membuat air leluasa merembes masuk, sementara dinding kayu yang mulai melengkung seolah memberikan tanda bahwa struktur bangunan tersebut tak lagi sanggup menopang beban."Rumah ini sudah sangat tua.
Setiap kali hujan turun, saya selalu ketakutan rumah ini tiba-tiba roboh menimpa kami," tutur Marbeah dengan suara bergetar.
Kisah Marbeah hanyalah puncak gunung es dari permasalahan sosial di wilayah tersebut. Berdasarkan penelusuran tim di lapangan, kondisi memprihatinkan serupa juga dialami oleh sejumlah warga lainnya.
Tercatat, setidaknya terdapat Empat kepala keluarga lain yang tinggal di hunian tidak layak, yakni Ibu Oni, Uum, Upu, dan Sarta. Mereka saat ini juga sangat membutuhkan intervensi mendesak sebelum kondisi tempat tinggal mereka benar-benar runtuh.
Di usianya yang telah menginjak 65 tahun, Marbeah tidak lagi memiliki fisik yang kuat untuk bekerja berat. Ia kini hanya mampu bertahan hidup berkat belas kasih dari para tetangga sekitar.
Jangankan untuk merenovasi rumah, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja, Marbeah dan anaknya harus berjuang ekstra keras.Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah maupun pihak swasta untuk memberikan perhatian serius.
Tanpa adanya bantuan segera, impian Marbeah dan warga lainnya untuk memiliki hunian yang aman hanyalah angan-angan yang jauh dari kenyataan.Kisah pilu ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya solidaritas sosial.
Kini, Marbeah hanya bisa menatap nanar dinding-dinding lapuk rumahnya, menanti uluran tangan para dermawan yang tergerak untuk memberikan secercah harapan sebelum hunian tersebut benar-benar ambruk dan menelan korban jiwa.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!