Pembatalan balapan utama Grand Prix Australia akhir pekan lalu menyisakan cerita emosional bagi para pembalap dan penggemar setia kejuaraan dunia balap motor. Kondisi cuaca ekstrem berupa hujan deras menyebabkan jarak pandang yang buruk dan membuat helikopter medis tidak dapat terbang dengan aman, sehingga otoritas penyelenggara terpaksa mengambil keputusan untuk menghentikan seluruh rangkaian acara balap di sirkuit ikonik tersebut. Situasi ini mengukuhkan Raul Fernandez sebagai pemenang terakhir di sirkuit bersejarah tersebut sebelum ajang balap internasional ini dijadwalkan berpindah lokasi ke Adelaide pada musim mendatang, sebuah akhir yang penuh kontroversi dan dramatis bagi lintasan tepi laut tersebut.

Meskipun tidak dapat turun ke lintasan akibat cedera jari yang ia derita sebelumnya, pembalap tim Trackhouse Aprilia tersebut tetap mengikuti agenda parade penghormatan menggunakan mobil keselamatan demi menyapa para penggemar yang memadati tribun. Dalam wawancaranya bersama DAZN, pembalap asal Spanyol itu mengungkapkan pandangan filosofis mengenai cuaca buruk yang mengguyur wilayah sirkuit. Menurutnya, hujan lebat yang turun secara terus-menerus memiliki makna simbolis yang mendalam bagi masa depan balapan di kawasan tersebut.

"Apakah saya diuntungkan darinya atau tidak, sejujurnya, saya sendiri merasa berada di Sepang adalah hal yang sulit," ujar Raul Fernandez mengenai situasi pelik yang dihadapi para paddock. Ia menambahkan bahwa lintasan legendaris di Negeri Kangguru tersebut sangat layak mendapatkan penutup musim yang megah. "Kenyataannya, saya percaya bahwa Australia, dengan trek yang luar biasa ini, layak mendapatkan balapan dan grand finale yang megah. Namun, saya benar-benar percaya pada tanda-tanda, dan saya pikir ini adalah semacam tanda bagi kami untuk kembali ke trek yang indah ini di masa depan. Tampaknya sirkuit ini sedang menangis, memohon kepada kami untuk tidak pergi."

- Advertisement -
Advertisement

Di sisi lain, keputusan pembalap bernomor 25 itu untuk absen dari balapan utama bukanlah tanpa alasan yang kuat. Sebelumnya, ia sempat memaksakan diri tampil dengan menahan rasa sakit pada cedera tangan yang didapatnya di Mandalika demi mengamankan posisi kedua pada Grand Prix Indonesia. Namun, karakteristik lintasan Phillip Island yang cepat dan mengalir ternyata memberikan tekanan fisik yang jauh lebih berat dari perkiraan awal, membuatnya tidak sanggup mempertahankan performa kompetitif di atas kuda besinya.

Baca Juga Hamilton Ungguli FP3 F1 GP Amerika Serikat di Austin

Setelah berhasil mengamankan posisi start keenam di sesi kualifikasi dalam kondisi basah, sang pembalap akhirnya memutuskan mundur dari sesi sprint race dan kemudian menarik diri sepenuhnya dari balapan utama Grand Prix. "Saya harus sepenuhnya mengubah gaya berkendara saya. Namun, di trek seperti ini, ini bukan lagi sekadar soal berkendara. Ini tentang mengelola perubahan arah, dan saya tidak bisa melakukannya. Itulah alasan utamanya," jelasnya mengenai hambatan fisik yang ia alami selama akhir pekan lomba.

Absennya sang pembalap menambah daftar panjang masalah yang dihadapi oleh pabrikan Noale menjelang seri berikutnya di Asia. Tim Aprilia kini berpotensi menghadapi Grand Prix Malaysia dengan hanya mengandalkan separuh kekuatan skuad utama mereka, mengingat partisipasi Jorge Martin juga masih berada dalam tanda tanya besar akibat cedera pergelangan tangan yang tengah membelenggunya saat ini.