Sirkuit Phillip Island bersiap menjadi tuan rumah ajang balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP, untuk terakhir kalinya pada akhir pekan ini. Setelah itu, balapan roda dua paling akbar sejagad ini akan resmi berpindah lokasi ke Adelaide mulai tahun 2027 mendatang, menggunakan sirkuit jalan raya baru yang dirancang khusus untuk memfasilitasi kecepatan tinggi sepeda motor.

Namun, transisi besar ini tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Pemerintah South Australia di bawah kepemimpinan Premier harus menghadapi gelombang penolakan keras dari kelompok pengunjuk rasa yang menamakan diri mereka 'Stop The Chop'. Kelompok ini secara konsisten menyuarakan keberatan mereka terhadap proyek pembangunan kembali sirkuit taman Adelaide serta area Lapangan Golf North Adelaide.

Kekhawatiran utama yang diangkat oleh para demonstran berpusat pada dampak lingkungan yang ditimbulkan, terutama penebangan pohon-pohon yang diperkirakan mencakup sekitar lima persen dari total area taman kota tersebut. Situasi ini bahkan telah menyeret pemerintah setempat ke ranah hukum, di mana seorang warga bernama Joshua Hogan berupaya menghentikan proyek pembangunan ini melalui jalur pengadilan atas dasar kekhawatiran terhadap keselamatan para pembalap.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi berbagai polemik tersebut, Premier merespons melalui akun media sosialnya dengan menarik garis paralel historis yang menarik. Ia merujuk pada arsip berita dari surat kabar Phillip Island & San Remo Advertiser yang mendokumentasikan bagaimana penolakan serupa pernah terjadi ketika ajang balap Grand Prix pertama kali direncanakan di sirkuit Victoria pada tahun 1989 silam.

Baca Juga Marc Marquez Kembali ke Motegi: Transformasi Juara yang Lebih Tenang

Dalam catatan sejarah tersebut, masyarakat setempat pada akhir tahun 1980-an menyuarakan ketakutan dan kekhawatiran yang hampir sama persis dengan apa yang kini sedang dihadapi oleh warga Adelaide. Terjadi rapat-rapat umum yang diwarnai kemarahan, prediksi akan terjadinya kekacauan total, hingga peringatan bahwa acara tersebut akan merusak karakter pulau.

Meskipun dihantam berbagai resistensi lokal yang masif pada masa itu, balapan di Phillip Island tetap dilanjutkan dan sukses besar. Penonton datang dalam jumlah puluhan ribu, prediksi kekacauan terbukti salah besar, dan bisnis lokal justru berkembang pesat seiring dengan ledakan sektor pariwisata internasional.