Akhir pekan balap Formula 1 di Autodromo Hermanos Rodriguez mendadak berubah menjadi mimpi buruk bagi kubu McLaren setelah sebelumnya sempat menunjukkan dominasi mutlak pada sesi latihan bebas maupun paruh awal kualifikasi. Tim yang bermarkas di Woking ini datang dengan ekspektasi tinggi menyusul performa impresif Lando Norris yang berhasil merajai catatan waktu pada sesi latihan bebas ketiga serta tampil sebagai yang tercepat pada sesi Q2. Publik paddock meyakini bahwa sang juara dunia Formula 1 tersebut bakal menjadi salah satu kandidat kuat peraih pole position dalam perebutan posisi start terdepan.

Namun, realita di lintasan berkata lain ketika sesi penentuan Q3 dimulai dan dinamika angin serta temperatur trek mulai berubah drastis. Lando Norris harus puas mengakhiri sesi kualifikasi dengan menempati posisi start keenam, sementara nasib yang jauh lebih mengenaskan dialami oleh rekan setimnya, Oscar Piastri. Pembalap asal Australia tersebut secara mengejutkan sudah tersingkir lebih awal sejak sesi Q2 dan sempat berada di peringkat ke-13 sebelum akhirnya naik satu tingkat menyusul penalti diskualifikasi yang diterima oleh pembalap lain di barisan belakang.

Menanggapi hasil minor yang diraih oleh kedua anak asuhnya, Team Principal McLaren, Andrea Stella, tidak menutup-nutupi kekecewaannya di hadapan para jurnalis. Ia secara terbuka membedah apa yang sebenarnya terjadi di balik garasi tim berjuluk papaya tersebut selama sesi krusial berlangsung. Menurut Stella, mobil balap mereka sebenarnya memperlihatkan tingkat daya saing yang jauh lebih menjanjikan jika dibandingkan dengan seri sebelumnya di Austin, namun masalah klasik kembali muncul pada saat-saat yang paling menentukan.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam analisis teknisnya, insinyur asal Italia tersebut menjelaskan bahwa karakter mobil MCL40 kerap menunjukkan inkonsistensi performa yang sulit diprediksi oleh para pembalap di dalam kokpit. Gejala tersebut mulai terlihat jelas ketika Oscar Piastri berjuang di Q2 dan kemudian kembali menerpa Lando Norris di sesi Q3. Ketidakpastian tingkat cengkeraman ban atau grip di atas aspal menjadi musuh utama yang merusak ritme balap secara keseluruhan.

Baca Juga Madrid Jadi Ujian Terberat F1, Antonelli Ramal Balapan Super Lambat

Andrea Stella menambahkan bahwa situasi tersebut semakin memperburuk keadaan ketika para pembalap mencoba memaksa mobil untuk melaju lebih kencang demi mendapatkan catatan waktu terbaik. "Jika pembalap mencoba untuk sedikit lebih menekan karena mereka merasa bahwa cengkeraman tersedia, itu tiba-tiba menghilang. Dan itu adalah perilaku aneh dari mobil yang membuat hidup para pembalap sangat sulit. Saya pikir itu diperparah ketika kondisinya sulit, seperti di sini atau di Austin, di mana angin mempersulit pekerjaan," ujar Stella menjelaskan karakter mobil timnya.

Ketika disinggung mengenai keputusan taktis di garasi, terutama terkait strategi penggunaan ban baru untuk Oscar Piastri pada sesi Q2 yang dianggap terlambat, Stella memilih untuk tidak terjebak dalam penyesalan masa lalu. Ia menegaskan bahwa fokus utama tim saat ini adalah melakukan evaluasi menyeluruh, memikul tanggung jawab atas kekurangan teknis yang ada, dan merumuskan strategi terbaik agar Oscar Piastri mampu bangkit mengejar poin penting pada balapan utama hari Minggu mendatang.