Banten, Nusantara Media - nyata pemuda dalam mendukung kedaulatan pangan nasional kembali ditunjukkan oleh organisasi Pemuda Berdampak (PB).
Dalam agenda bertajuk “Kopdar Tani Bareng MasDar”, organisasi ini secara resmi menyerahkan dokumen *Policy Brief* strategis berjudul “Dari Tanah Jawara untuk Indonesia Raya” kepada Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Sudaryono.
Langkah ini menjadi momentum krusial bagi kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda dalam mengakselerasi transformasi sektor pertanian serta peternakan, khususnya di wilayah Provinsi Banten.
Dokumen Policy Brief yang disusun oleh Pemuda Berdampak merupakan kristalisasi dari kajian mendalam mengenai tantangan serta peluang sektor pangan di Banten.
Sebagai wilayah yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di sisi barat Indonesia, Banten memiliki posisi strategis untuk menyokong target swasembada pangan nasional yang dicanangkan pemerintah.
Founder Pemuda Berdampak, Bagas Yulianto, dalam keterangannya menegaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian adalah sebuah keharusan. Baginya, pemuda harus bertransformasi dari sekadar pengamat menjadi subjek penggerak perubahan di desa.
"Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton. Kami hadir untuk menjadi pelaku perubahan, menghadirkan inovasi, dan memastikan sektor pertanian menjadi bidang yang modern serta membanggakan. Sektor pertanian adalah masa depan, dan kami siap mengawal keberlanjutannya," ujar Bagas dengan penuh semangat.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam dokumen tersebut, sektor pertanian di Banten menunjukkan tren yang sangat positif. Produksi padi di Provinsi Banten pada tahun 2025 tercatat mencapai 1,8 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 16,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian impresif ini sukses mengantarkan Provinsi Banten masuk ke dalam jajaran delapan besar provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia. Meski demikian, Pemuda Berdampak mengingatkan bahwa terdapat tantangan besar yang mengancam keberlanjutan sektor ini, di antaranya:
- Krisis regenerasi petani di tingkat perdesaan.
- Perlunya modernisasi alat dan mesin pertanian berbasis teknologi digital.
Dalam Policy Brief tersebut, Pemuda Berdampak merumuskan beberapa rekomendasi kebijakan konkret yang diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Poin-poin utama yang diusulkan meliputi:
1. Penguatan LP2B: Melakukan perlindungan ketat terhadap Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk menekan laju alih fungsi lahan.
2. Hilirisasi Produk Pangan: Mendorong terciptanya nilai tambah bagi petani melalui pengolahan pascapanen agar produk tidak sekadar dijual dalam bentuk bahan mentah.
3. Ekonomi Sirkular: Membangun ekosistem pertanian terintegrasi, di mana sektor pertanian dan peternakan saling menyokong (sistem *integrated farming*), guna meningkatkan efisiensi biaya produksi dan kesejahteraan petani.
Penyerahan dokumen ini diharapkan tidak hanya menjadi seremoni, melainkan langkah awal integrasi kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan petani.
Dengan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian, Pemuda Berdampak optimis bahwa Banten mampu menjadi motor penggerak bagi kemandirian pangan nasional yang berkelanjutan di masa depan.
Melalui sinergi ini, sektor pertanian diharapkan mampu menarik minat generasi Z dan milenial untuk terjun langsung, mengubah stigma pertanian yang tradisional menjadi sektor modern yang menjanjikan secara ekonomi serta prestisius bagi generasi muda Indonesia.
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!