Peta persaingan motorsport Eropa kembali memanas menjelang penutupan musim kejuaraan bergengsi. Pereli muda berbakat asal Finlandia, Vatanen, bersiap menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya saat ia turun di ajang reli gravel menggunakan spesifikasi kendaraan kelas dunia. Ini menandai momen penting bagi sang pereli yang baru saja mengamankan tiket berharga setelah keluar sebagai juara dalam ajang kompetitif M-Sport Fiesta Rally3 Trophy musim ini, sebuah prestasi yang membuka jalan menuju level yang lebih tinggi.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari RallyJournal, kesempatan emas ini juga menjadi pengalaman perdana bagi Vatanen bersama co-driver setianya, Joonas Ojala, untuk menguji kemampuan di atas lintasan kerikil atau gravel dengan menggunakan mobil bermesin Rally2. Menghadapi reli penutup musim yang berlangsung sengit di kawasan Fafe, Portugal, pada 23 hingga 25 Oktober mendatang, persiapan matang menjadi kunci utama untuk menaklukkan rute sepanjang lebih dari 180 kilometer SS (Special Stages).

Meskipun dihadapkan pada adaptasi kendaraan yang masif dan medan baru yang belum pernah ia jamah sebelumnya, Vatanen tetap menunjukkan optimisme tinggi. Ia menyadari bahwa memacu mobil yang lebih bertenaga di permukaan lintasan yang menuntut teknik tinggi membutuhkan pendekatan cerdas, bukan sekadar kecepatan murni sejak bendera start dikibarkan. Studi mendalam melalui rekaman video dari edisi-edisi sebelumnya telah ia lakukan demi memahami karakteristik lintasan khas Portugal.

- Advertisement -
Advertisement

“Kami sedang menuju ke sana dengan penuh antisipasi, dan kami akan mencoba melakukan yang terbaik serta berkembang di balik kemudi mobil baru ini. Tujuannya adalah untuk menjadi lebih baik seiring berjalannya reli. Saya percaya bahwa setelah tahap pembukaan, kita akan melihat di mana posisi kecepatan kita,” ujar Vatanen mengungkapkan optimismenya menjelang hari perlombaan.

Karakteristik lintasan di kawasan Fafe sendiri terkenal menantang, dengan permukaan jalan yang cenderung lunak pada lintasan pertama dan berpotensi memunculkan banyak alur atau rute berlubang pada putaran berikutnya. Hal ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi dari setiap peserta yang berlomba di ajang penutup European Rally Championship (ERC) tersebut. Vatanen menegaskan bahwa kepastian mengenai kondisi riil jalan baru akan benar-benar tersaji setelah tahapan pengenalan medan atau recce selesai dilaksanakan.

Baca Juga BBC Kembali Siarkan WRC 2027, Rally Scotland Jadi Magnet

“Jalanannya bisa terasa lunak dan mungkin akan berlubang. Ini pasti akan menjadi rute yang menarik, tetapi kita baru akan mendapatkan gambaran yang jelas tentang seperti apa bentuk jalanan itu setelah melakukan pengenalan medan,” tambahnya mengenai tantangan geografis di Portugal.

Dalam menjalani debut di atas kokpit Rally2 pada permukaan gravel, pendekatan rasional menjadi pilihan utama tim. Vatanen tidak ingin terburu-buru mengambil risiko berlebihan pada hari pertama, melainkan fokus menjaga konsistensi ritme balap yang cepat namun terukur. Sesi pengujian pra-lomba atau pre-event test akan dimanfaatkan secara maksimal untuk mencari batasan optimal dari kendaraan tersebut.

“Kami akan mengendari mobil dengan menggunakan kepala kami. Pengujian pra-lomba akan memberi kami kesempatan pertama merasakan mobil yang lebih besar di atas kerikil, dan setelah itu kami akan mulai memahami seberapa keras kami dapat mendorong kendaraan. Tentu saja, jika pengujian membuat kami merasa baik, kami akan menginjak pedal gas dan langsung tancap gas,” tutup Vatanen.