Pembalap muda berbakat asal Spanyol, Pedro Acosta, akhirnya memberikan klarifikasi tegas mengenai alasan di balik keputusannya untuk meninggalkan kubu KTM dan bergabung dengan pabrikan Borgo Panigale, Ducati. Isu panas sempat berhembus setelah CEO KTM, Gottfried Neumeister, mengungkapkan bahwa kepindahan sang pembalap didasari oleh ambisi besar untuk mengalahkan juara dunia delapan kali, Marc Marquez, di atas mesin yang sepenuhnya identik di ajang MotoGP.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gottfried Neumeister bulan lalu ketika ia menceritakan kembali percakapan pribadinya dengan sang pembalap muda. Menurut sang petinggi KTM, tawaran finansial besar maupun janji motor yang kompetitif gagal mengubah pendirian sang bintang muda yang kala itu sudah bulat untuk hengkang. Neumeister bahkan menyebut bahwa pembalap andalannya tersebut secara tersirat ingin menaklukkan sang legenda hidup menggunakan senjata yang sama persis di lintasan balap.

Namun, narasi tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh sang pembalap saat ditemui oleh media di sela-sela akhir pekan balapan MotoGP Indonesia. Juara dunia kelas ringan dan menengah itu menjelaskan bahwa tidak pernah ada proses negosiasi yang sesungguhnya dengan pihak manajemen KTM. Keputusan untuk menolak perpanjangan kontrak dan mencari pelabuhan baru diambil karena pengalaman kurang menyenangkan di masa lalu ketika dirinya merasa terkekang oleh situasi internal tim.

- Advertisement -
Advertisement

"Masalahnya adalah saya tidak pernah bernegosiasi dengan KTM," ujar Pedro Acosta dengan tegas. "Mereka mengirimi saya kontrak, saya katakan tidak. Mereka datang untuk mencoba meyakinkan saya, dan saya katakan kepada mereka bahwa tidak ada jalan di dunia ini saya akan berubah pikiran, karena ketika saya ingin pergi dari sini tahun lalu, mereka melemparkannya ke muka saya bahwa saya tidak memenuhi kontrak saya."

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keputusan untuk berkomitmen dengan skuad pabrikan Ducati pada Desember lalu merupakan salah satu pilihan hidup yang paling sedikit ia pikirkan karena keyakinannya yang begitu kuat. Bersama sang manajer, Albert Valera, prioritas utama mereka adalah mengamankan tempat di motor paling kompetitif dan tim paling dominan dalam satu dekade terakhir demi kelanjutan karier jangka panjang di level tertinggi.

Baca Juga Aldeguer Sesalkan Hasil Sprint MotoGP Misano Usai Duel dengan Acosta

Sang bintang muda juga meluruskan bahwa fokus utamanya bukanlah obsesi untuk mengalahkan sang senior, melainkan sebuah kesempatan emas untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari pembalap tersukses era modern. Baginya, berbagi garasi dengan sang legenda adalah sebuah privilege langka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja demi perkembangan teknik balapnya.

"Ini bukan tentang mengalahkan Marc. Memang benar bahwa satu-satunya alasan saya ingin pergi dengan Marc adalah karena saya tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk belajar dari pembalap terbaik dalam sejarah, atau pembalap terbaik dalam 15 tahun terakhir," tutupnya.