Tangerang Selatan , Nusantara Media — Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Teologi Global Glow Indonesia (IKASGI), melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) ke 1, di Hotel Aviary Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Sabtu (15/8/2026).

Mubes tersebut, menjadi momentum penting bagi pembentukan dan penguatan organisasi alumni STT Global Glow Indonesia.

Meski secara historis ikatan alumni pernah dibentuk, kepengurusan kali ini disebut sebagai langkah awal untuk menjalankan organisasi secara lebih terstruktur dan mandiri.

- Advertisement -

Ketua Umum IKASGI, Pdt. Yofri George M,Th., MTS mengatakan, organisasi tersebut saat ini memiliki sekitar 400 alumni yang berasal dari jenjang pendidikan S1, S2 hingga S3 teologi.

"Ini pertama kali terbentuk secara benar-benar berjalan. Anggotanya, kurang lebih 400 orang, dari doktor teologi, magister teologi, sampai sarjana teologi," ujar Yofri.

Ia menjelaskan, kepengurusan IKASGI saat ini, berjumlah sekitar 20 orang. Ke depan, organisasi tersebut akan diarahkan menjadi perkumpulan yang mandiri dan memiliki legalitas melalui proses administrasi badan hukum.

Menurut Yofri, keberadaan IKASGI, tidak hanya ditujukan sebagai wadah silaturahmi alumni, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Lanjut Yofri menjelaskan, bahwa IKASGI telah mulai membangun jejaring dengan sejumlah organisasi-organisasi dan lembaga lainnya.

"Yang kita lakukan, adalah berjejaring keluar. Tidak semua hal harus kita mulai dari awal. Kalau ada yang sudah dilakukan, kenapa tidak kita support dan kita kolaborasikan," katanya.

Yofri menegaskan, latar belakang pendidikan teologi, tidak membatasi alumni untuk berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.

Para alumni, menurutnya, dapat berkiprah sebagai pendeta, dosen, pimpinan perusahaan, pejabat, hingga profesi lainnya.

Ia berharap, para alumni memiliki cara pandang yang luas dan semangat untuk ikut membangun bangsa.

"Karena sendiri bisa, tetapi kalau bersama pasti luar biasa. Kita rapatkan barisan, bergandengan tangan untuk membangun bangsa," tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum IKASGI, Pendeta John Lehitu, mengajak seluruh alumni STT Global Glow Indonesia untuk bergabung dalam organisasi tersebut.

Menurut John, keanggotaan IKASGI, tidak hanya diperuntukkan bagi alumni yang telah menyelesaikan pendidikan S1, S2 maupun S3.

Mereka yang pernah menempuh pendidikan selama beberapa semester, namun kemudian melanjutkan ke sekolah teologi lain, juga dapat menjadi bagian dari organisasi.

"Dalam kepengurusan ini, ada anggota biasa, anggota kehormatan, dan anggota luar biasa. Jadi, bagi teman-teman yang pernah menimba ilmu satu, dua atau tiga semester, tetapi kemudian pindah ke STT lain, tetap menjadi bagian dari ikatan alumni," jelasnya.

John berharap, IKASGI dapat menjadi wadah bagi para alumni untuk berkolaborasi, memberikan dampak positif, serta menjadi berkat bagi gereja, komunitas dan masyarakat.

"Kita bisa berkolaborasi, kita bisa berdampak dan menjadi berkat di mana pun Tuhan memanggil dan mengutus kita," ujarnya.

Dari pihak STT Global Glow Indonesia, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Fetrie J.L. Maramis menjelaskan, bahwa pembentukan IKASGI merupakan bagian dari amanat statuta perguruan tinggi yang mengatur keberadaan ikatan alumni.

Ia mengatakan, pembentukan organisasi, diawali dengan pertemuan antara pihak kampus dan sejumlah alumni.

Setelah itu, pimpinan STT Global Glow Indonesia, menerbitkan surat keputusan pengangkatan kepengurusan IKASGI.

Meski berada dalam koordinasi kelembagaan, Fetrie menegaskan, bahwa IKASGI memiliki ruang untuk menjalankan aktivitas organisasinya secara independen.

"Independen dalam arti, mereka melaksanakan setiap aktivitas organisasi secara independen. Tetapi harus searah dengan misi STT Global Glow Indonesia," jelasnya.

Menurut Fetrie, keberadaan IKASGI, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kampus, termasuk membantu memperkenalkan STT Global Glow Indonesia kepada masyarakat serta membuka peluang bagi lulusan baru.

Ia menilai, alumni memiliki posisi strategis karena sebagian besar telah bekerja dan berkiprah di berbagai sektor, baik pemerintahan maupun swasta.

"Alumni di setiap sekolah tinggi atau universitas, memiliki peran kuat untuk menunjang dan mendukung almamater. Mereka juga dapat menjadi panutan, sekaligus mengakomodasi lulusan-lulusan baru," katanya.

Fetrie juga menyampaikan, bahwa STT Global Glow Indonesia, saat ini memiliki sejumlah program studi, antara lain Teologi jenjang S1, Magister Teologi, Doktor Teologi, Pendidikan Agama Kristen, serta Magister Pendidikan.

Program Doktor Teologi, lanjutnya, baru memperoleh akreditasi dengan predikat sangat baik dan ditargetkan terus ditingkatkan hingga mencapai predikat unggul.

Dengan terbentuknya kepengurusan IKASGI, pihak kampus berharap, para alumni dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring, mendukung almamater, serta memberikan kontribusi lebih luas di tengah masyarakat.

Mubes I IKASGI pun, diharapkan menjadi titik awal konsolidasi alumni STT Global Glow Indonesia untuk membangun organisasi yang solid, mandiri, dan mampu melahirkan berbagai program kolaboratif yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa.

Mubes I IKASGI, berlangsung dengan dipimpin oleh Pendeta Guntur Karamoy bersama Ketua Umum IKASGI, Pendeta Yofri George, Sekretaris Umum IKASGI, Pendeta John Lehitu, serta Bendahara Umum IKASGI, Desra Natasha WN.