Akhir pekan balapan George Russell pada Grand Prix Singapura berubah menjadi mimpi buruk yang sesungguhnya. Selain harus menerima kenyataan pahit berupa penalti 60 posisi mesin, pembalap asal Inggris tersebut juga harus berjibaku dengan masalah pedal rem yang melunak serta insiden kebocoran botol minuman di dalam kokpit yang membuat kondisi balapannya semakin menyiksa selama dua jam penuh di atas lintasan jalan raya Marina Bay.

Namun, teka-teki mengenai perjuangan berat tersebut akhirnya terjawab setelah laporan dari paddock mengungkapkan fakta baru yang mengejutkan. Usai insiden kecelakaan hebat yang dialami George Russell saat sesi balapan sprint hari Sabtu, tim Mercedes ternyata kehabisan persediaan suku cadang baru di garasi markas Brackley. Kerusakan parah pada mobil W17 memaksa para mekanik bekerja ekstra keras semalaman untuk melakukan perbaikan besar-besaran.

Menurut laporan eksklusif dari media Jerman, tim panen kerugian besar setelah kecelakaan tersebut menghancurkan inventaris komponen serat karbon baru milik pabrikan asal Jerman itu. Komponen krusial seperti sayap depan, lantai mobil, suspensi depan, dan seluruh bagian belakang mobil harus diganti secara total demi memastikan kendaraan bisa kembali turun ke atas lintasan balap keesokan harinya.

- Advertisement -
Advertisement

Kendangan yang dibangun kembali tersebut terpaksa menggunakan komponen bekas pakai dari seri balapan sebelumnya karena stok suku cadang baru sudah ludes tak tersisa. Walaupun komponen pengganti tersebut memiliki spesifikasi aerodinamika yang identik dengan versi pabrikan yang masih segar, realitas di lintasan Formula 1 berbicara lain mengenai performa tingkat tinggi yang sangat sensitif terhadap keausan material.

Komponen balap Formula 1 modern dikenal sebagai mesin penindas yang sangat kejam terhadap material fisik mobil. Serat karbon mengalami kelenturan, bagian bawah lantai terus-menerus bergesekan dengan permukaan aspal jalan raya, dan lengan suspensi menerima hantaman konstan saat melindas kerb berkecepatan tinggi di sepanjang sirkuit jalan raya Singapura yang menantang.

Baca Juga Red Bull Akui Masalah Balance di Monza; Verstappen Frustrasi

Penggunaan komponen yang sudah pernah melewati siklus balapan sebelumnya secara inheren memberikan performa mentah yang lebih rendah dibandingkan seperangkat komponen baru yang keluar langsung dari pabrik. Hal tersebut memberikan konteks yang jauh lebih rasional mengapa prinsipal tim Mercedes menilai finis di posisi kesembilan sebagai sebuah penyelamatan poin yang luar biasa setelah start dari posisi ke-19.

Memanjat barisan tengah hingga zona poin di sirkuit jalan raya yang sempit tentu bukan perkara mudah bagi pembalap manapun di grid kejuaraan dunia. Terlebih lagi, perjuangan tersebut dilakukan di atas kendaraan rakitan yang telah kehilangan sedikit gigitan aerodinamika akibat komponen yang sudah mengalami keausan dari balapan-balapan sebelumnya.