Sebuah kisah menyentuh dari Hiroshima kini menemukan rumah barunya di pegunungan Abruzzo, merajut memori sejarah kelam bom atom menjadi sebuah refleksi mendalam tentang tanggung jawab kemanusiaan dan secercah harapan masa depan. Pada tanggal 22 Oktober yang lalu, sebuah karya seni mural monumental resmi diresmikan di desa Aielli, yang merupakan bagian dari proyek Borgo Universo. Karya visual memukau ini merupakan hasil garapan seniman jalanan terkemuka asal Italia, Antonio Cotecchia, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Kote, dengan dukungan penuh serta promosi dari pihak Mazda Italia. Pemilihan lokasi di pusat wilayah Marsica ini semakin memperkuat status desa tersebut sebagai galeri seni terbuka yang hidup.
Inspirasi utama di balik mahakarya visual ini berasal dari figur tragis sekaligus inspiratif bernama Sadako Sasaki, seorang gadis kecil yang menjadi korban gelombang radiasi Perang Dunia II. Sadako baru berusia dua tahun ketika bom atom meluluhlantakkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945. Meskipun berhasil selamat dari ledakan awal, ia jatuh sakit bertahun-tahun kemudian akibat penyakit leukimia yang merenggut nyawanya pada usia dua belas tahun. Di tengah perjuangannya melawan penyakit tersebut, ia mulai melipat ribuan burung bangau dari kertas atau origami, berpegang pada legenda tradisional Jepang bahwa siapa pun yang mampu merampungkan seribu burung kertas dapat mengajukan satu permohonan tulus. Sejak saat itu, burung-burung kertas karya Sadako bertransformasi menjadi lambang perdamaian global yang abadi.
Dalam interpretasi artistik yang dihadirkan oleh Kote, wajah Sadako divisualisasikan secara cermat melalui perpaduan bidang geometris serta permainan warna yang secara visual merepresentasikan liputan kertas origami. Goresan kuas sang seniman berpadu secara progresif hingga mempertemukan figur potret sang anak dengan wujud burung bangau, menyiratkan sebuah pergerakan transformatif di mana kenangan atas tragedi kemanusiaan dapat membuka peluang untuk merajut masa depan yang sama sekali berbeda. Pemilihan desa Aielli sebagai kanvas raksasa ini tentu bukan keputusan sembarangan yang diambil tanpa pertimbangan matang oleh para pihak yang terlibat dalam inisiatif kebudayaan tersebut.
Kepala Pemerintahan setempat, yakni Walikota Enzo Di Natale, memiliki visi besar untuk menjadikan seni kontemporer sebagai elemen integral dari lanskap arsitektur dan dinamika harian masyarakat lokal. Mural terbaru ini menghiasi sebuah bidang dinding yang sebelumnya sempat digambarkan oleh sang walikota sebagai area yang sempat terluka akibat bencana gempa bumi. Melalui sentuhan seni modern, dinding yang rapuh tersebut kini beralih fungsi menjadi sebuah medium penyampai pesan kebangkitan sosial. Acara peresmian yang berlangsung khidmat tersebut turut dihadiri oleh Fumie Mochimaru selaku Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Jepang di Italia, serta CEO Mazda Motor Italia, Roberto Pietrantonio, bersama para pejabat lokal dan ratusan pelajar dari institusi pendidikan setempat seperti IIS Torlonia Croce di Avezzano.
Baca Juga Matt Stone Tegaskan Masa Depan Zach Bates di SupercarsInisiatif kultural ini pada dasarnya berakar dari keterikatan historis yang sangat kuat antara korporasi otomotif Mazda dan kota kelahiran mereka di Hiroshima. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1920 dengan nama awal Toyo Cork Kogyo tersebut masih mempertahankan kantor pusatnya di kota besar Jepang tersebut hingga hari ini. Menariknya, fasilitas pabrik mereka yang berlokasi sekitar lima kilometer dari titik nol ledakan sempat mengalami kerusakan yang relatif lebih ringan dibandingkan wilayah perkotaan lainnya. Pada masa-masa krisis pasca-tragedi, bangunan pabrik yang masih layak pakai langsung difungsikan untuk menampung para korban luka serta menjadi pusat logistik darurat bagi operasi penyelamatan kemanusiaan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!