24 Hours of Le Mans edisi 2027 berada di ujung tanduk. Perseteruan antara FIA dan ACO selaku penyelenggara balapan legendaris itu membuat masa depan World Endurance Championship (WEC) penuh ketidakpastian. Kabar ini pertama kali mencuat dari laporan media Jerman, Auto Motor und Sport, yang menyebut hubungan kedua badan tersebut sedang retak parah.
Sejak WEC lahir pada 2012, FIA dan ACO memang berjalan berdampingan. ACO melalui anak perusahaannya, Le Mans Endurance Management, dipercaya sebagai promotor WEC, dengan Le Mans sebagai salah satu putaran juara dunia. Namun, kontrak kerja sama itu telah berakhir dan hingga kini belum ada kesepakatan baru. Padahal, kesepakatan anyar sempat dijadwalkan diteken pada Juni lalu. Alhasil, musim WEC 2024 ini berjalan tanpa payung kontrak yang jelas.
Pemicu utama konflik ini diduga kuat adalah keinginan Presiden FIA, Mohammed Ben Sulayem, untuk mendongkrak pendapatan FIA dari WEC. Selama ini, ACO disebut menikmati syarat istimewa warisan era Jean Todt—membayar lebih sedikit ke FIA dibandingkan ajang lain seperti Formula 1 dan WRC. Tak hanya itu, ACO juga memegang hak eksklusif dalam merumuskan regulasi teknis kelas Hypercar. Kondisi ini membuat Ben Sulayem ingin mengubah peta kekuasaan.
Yang lebih mengejutkan, Auto Motor und Sport mengklaim sejumlah pabrikan telah menyampaikan keluhan tentang ACO kepada FIA. Meski begitu, belum jelas pabrikan mana saja yang mengeluh dan bagaimana komposisi dukungan jika benar-benar terjadi perpecahan. Di sisi lain, hubungan personal antara Ben Sulayem dan bos ACO, Pierre Fillon, dikabarkan telah rusak. Padahal, pada Juni silam di Le Mans, Ben Sulayem masih optimistis kesepakatan baru akan rampung dalam sepekan.
Jika jalan buntu berlanjut, FIA mengancam akan menunjuk promotor lain untuk WEC dan membuka tender publik. Konsekuensi terbesarnya: 24 Hours of Le Mans kemungkinan besar hengkang dari kalender WEC. Tanpa balapan ikonik itu, daya tarik dan keberlangsungan jangka panjang WEC dipertanyakan. Bisa jadi WEC menjelma menjadi sekadar ajang ketahanan tanpa mahkota sejatinya.
Baca Juga Norris Uji Hypercar McLaren, Spekulasi Le Mans MencuatAncaman lain yang tak kalah serius adalah munculnya seri 'breakaway' yang dikelola ACO dengan Le Mans sebagai pusatnya. Skenario ini bakal mengacaukan stabilitas regulasi teknis di kelas tertinggi sportscar. Sebab, ACO dan mitranya di Amerika Utara, IMSA SportsCar Championship, selama ini bahu-membahu menyusun aturan Hypercar. Regulasi yang ada sekarang akan berakhir pada 2030, dan perpecahan bisa membuat proses negosiasi aturan baru jadi kacau balau.
Saat ini, platform LMDh lebih dominan dibandingkan LMH di kelas Hypercar—buah hasil kerja sama erat ACO dan FIA. Namun, jika ACO memisahkan diri, keseimbangan itu bisa berubah. Pabrikan yang berencana masuk pada 2027 seperti Ford dan McLaren pun dibuat menunggu. Mereka tentu ingin kejelasan: apakah akan berlomba di bawah bendera WEC versi FIA, atau mengikuti seri tandingan bentukan ACO? Belum ada jawaban pasti.
Yang jelas, ketegangan ini bukan sekadar perang kursi antar birokrat balap. Ini menyangkut masa depan balap ketahanan secara keseluruhan. Le Mans adalah magnet utama yang menarik pabrikan, tim, dan jutaan penonton. Jika magnet itu lepas dari WEC, ekosistem yang dibangun susah payah selama lebih dari satu dekade bisa runtuh. FIA dan ACO harus segera duduk kembali ke meja perundingan sebelum semuanya terlambat.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!