Tepat 68 tahun yang lalu, Mike Hawthorn mencatatkan namanya dalam sejarah abadi ajang balap jet darat dengan mengamankan gelar juara dunia Formula 1 pertama bagi Britania Raya. Kesuksesan tersebut diraih setelah melalui pertarungan sengit dan penuh drama melawan para pesaing tangguh di era yang sangat berbahaya, sebuah pencapaian puncak yang harus dibayar mahal oleh dunia balap.

Pembalap kelahiran Yorkshire tersebut datang ke seri pamungkas di Maroko dengan keunggulan delapan poin di klasemen sementara kejuaraan pembalap. Seri di sirkuit Ain-Diab, Casablanca, ini menjadi satu-satunya dalam sejarah ketika negara Afrika tersebut menggelar Grand Prix Kejuaraan Dunia, menambah ketegangan di atas aspal panas yang disaksikan oleh para penggemar global dari berbagai penjuru dunia.

Sepanjang musim kompetisi yang melelahkan tersebut, pembalap andalan Ferrari ini harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan dua rekan setimnya yang tewas dalam kecelakaan tragis, yakni Luigi Musso dan Peter Collins. Dalam balapan penentu gelar, Hawthorn terkunci dalam duel ketat melawan rival senegaranya dari tim Vanwall, Stirling Moss, yang bertekad merebut mahkota juara.

- Advertisement -
Advertisement

Pada sesi kualifikasi di sirkuit Ain-Diab, Hawthorn sukses merebut posisi pole dengan keunggulan tipis hanya sepersepuluh detik dari Moss. Sementara itu, rekan setimnya di Ferrari, Phil Hill, dan Olivier Gendebien masing-masing mengamankan posisi start kelima dan keenam untuk mengawal jalannya balapan penentuan gelar juara dunia yang sangat emosional tersebut.

Namun, saat lampu start padam, Hawthorn justru kehilangan posisi awal akibat memilih pendekatan yang jauh lebih konservatif demi mengamankan titel juara. Strategi utamanya saat itu sangat jelas, yakni cukup menjaga posisi agar tetap berada di depan para pembalap pendukung yang mengancam peluangnya meraih gelar prestisius tersebut.

Di sisi depan, Moss langsung melesat kencang meninggalkan para pesaingnya dengan dikawal oleh Phil Hill. Sementara itu, Hawthorn sempat berada di belakang pembalap Vanwall lainnya, Stuart Lewis-Evans, yang tampil impresif sebelum mesin mobilnya mengalami kegagalan fatal pada putaran ke-41, yang kemudian memicu kecelakaan hebat dan terbakar.

Baca Juga Martin Brundle Soroti Dilema Kursi Pembalap Racing Bulls F1

Meskipun berhasil selamat dari kobaran api di lintasan, Lewis-Evans harus dievakuasi menggunakan helikopter untuk diterbangkan kembali ke Inggris, di mana ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya enam hari kemudian akibat luka bakar parah. Insiden tersebut menyelimuti atmosfer paddock dengan duka mendalam di tengah perayaan gelar juara dunia.

Melihat situasi krusial di trek, Ferrari memberikan instruksi tegas kepada Phil Hill untuk memperlambat lajunya secara drastis guna membiarkan Hawthorn mendekat. Pembalap asal Amerika Serikat itu kemudian secara sukarela membiarkan Hawthorn melewati dirinya untuk merebut posisi kedua, hasil minimal yang dibutuhkannya untuk mengunci gelar juara dunia dengan keunggulan tipis satu poin saja dari Moss.

Segera setelah mengamankan gelar juara dunia tersebut, Hawthorn langsung memutuskan untuk pensiun dari dunia balap Grand Prix demi mengamankan tempatnya dalam sejarah olahraga otomotif. Kendati demikian, takdir berkata lain karena ia harus meninggal dunia hanya tiga bulan berselang akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya yang merenggut nyawanya secara tragis.