Aksi kontroversial mewarnai jalannya balapan malam hari pada ajang Grand Prix Singapura di Marina Bay Street Circuit, ketika Lewis Hamilton mengambil keputusan strategis di luar instruksi timnya. Dalam fase Virtual Safety Car yang krusial akibat insiden mobil Aston Martin milik Lance Strolls, pit wall Scuderia Ferrari telah merancang langkah taktis yang matang untuk memanggil kedua pembalap mereka masuk ke jalur pit demi mengganti ban baru. Keputusan tersebut didasari oleh perhitungan matang untuk memberikan tekanan maksimal kepada pimpinan balapan Max Verstappen, sekaligus mengamankan posisi podium kedua dan ketiga secara absolut bagi skuad asal Maranello tersebut.

Namun, sang juara dunia tujuh kali justru memilih jalurnya sendiri di atas lintasan Marina Bay dan secara terbuka mengabaikan perintah langsung dari garasi Ferrari untuk melakukan pit stop. Alih-alih mengenakan kompon segar seperti pembalap lainnya, pembalap asal Inggris itu memilih untuk tetap bertahan di atas ban yang sudah mulai menipis daya cengkeramnya. Keputusan mandiri ini langsung memicu petaka teknis yang masif pada paruh akhir balapan, di mana ia kesulitan mempertahankan ritme kecepatan dan terbukti menjadi mangsa empuk bagi para pesaing di belakangnya.

Dampak dari keputusan tersebut sangat merugikan posisi akhir sang bintang baru Ferrari di garis finis. Laju mobilnya yang kian melambat akibat degradasi ban yang parah membuatnya harus rela disusul oleh Andrea Kimi Antonelli, Lando Norris, dan Oscar Piastri secara beruntun. Bahkan, ia harus kehilangan posisi kelima di tangan pembalap McLaren tersebut meskipun sang rival asal Australia sempat mengalami kendala pit stop akibat lambatnya pergantian ban dan masalah lambat. Pada akhirnya, ia harus puas menyudahi rangkaian balapan malam di Singapura hanya di posisi keenam.

- Advertisement -
Advertisement

Menyadari kesalahan fatal yang dilakukannya di atas kokpit, peraih tujuh gelar juara dunia tersebut langsung menunjukkan sikap ksatria selepas balapan usai dengan mengakui kekeliruannya di hadapan para petinggi tim. Ia secara terbuka menyampaikan permintaan maaf yang tulus kepada seluruh anggota tim atas keputusan egois yang diambilnya di tengah sengitnya persaingan trek. Meskipun telah mengakui kesalahannya, gelombang kritik pedas tetap menghujani sang pembalap senior, salah satunya datang dari mantan pembalap Formula 1 yang kini menjadi pengamat senior Sky Sports, Martin Brundle.

Baca Juga Lelang Amal Kostecki Tawarkan Ban Bersejarah Townsville 500

Dalam ulasan mendalam pascalomba, pengamat senior berusia 67 tahun tersebut menyoroti bagaimana jalannya balapan sang bintang bermula dari penggunaan ban medium baru sebelum beralih ke ban lunak pada putaran ke-18. Brundle menegaskan bahwa mengubah strategi menjadi skema satu kali pit stop yang memaksa ban bertahan hingga 44 putaran penuh adalah murni inisiatif sang pembalap sendiri. Melalui analisis tajam khas dunia balap kelas premier, sang pandit menyimpulkan bahwa mengemudikan mobil modern sekelas Formula 1 sambil mencoba mengambil alih kendali strategi tim dari balik kemudi adalah sebuah kemustahilan teknis yang tidak boleh terulang kembali.