Rencana kembalinya ajang balap mobil prestisius Formula 1 ke benua Afrika melalui gelaran di Ruanda awal 2030 mendatang langsung menuai kecaman keras dari berbagai pihak. Organisasi internasional yang bergerak di bidang pembelaan hak-hak asasi manusia, Amnesty International, secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap keputusan strategis yang diambil oleh promotor kejuaraan dunia tersebut.

Pengumuman resmi mengenai kesepakatan penyelenggaraan balapan berdurasi sepuluh tahun di sirkuit baru yang akan dibangun di kawasan Bugesera, Ruanda, disampaikan pada hari Selasa, 13 Agustus. Keputusan ini menandai kembalinya kasta tertinggi balap single-seater ke benua hitam setelah terakhir kali panggung megah tersebut singgah di sirkuit Kyalami pada musim 1993 silam, di mana Alain Prost keluar sebagai pemenang di depan Ayrton Senna.

Kendati disambut antusias oleh para penggemar motorsport yang rindu akan kehadiran seri balap di Afrika, langkah ekspansi komersial ini justru dipandang miring oleh para aktivis kemanusiaan. Felix Jakens selaku kepala kampanye Amnesty International di Britania Raya menilai kontrak jangka panjang yang disponsori oleh badan pariwisata nasional tidak lebih dari sebuah upaya pembersihan citra lewat jalur olahraga atau yang dikenal sebagai sportwashing.

- Advertisement -
Advertisement

“Sebuah Grand Prix selama sepuluh tahun yang dihadirkan oleh Visit Rwanda adalah sebuah penghargaan atas praktik sportwashing bagi otoritas Ruanda. Sebelumnya Arsenal, lalu Aston Villa, kejuaraan dunia balap sepeda, dan kini Formula 1, Ruanda sedang gencar berinvestasi pada ajang-ajang olahraga terbesar di dunia untuk memperbaiki citra mereka serta mengalihkan perhatian publik dari situasi hak asasi manusia yang mengerikan,” ujar Felix Jakens dalam pernyataan resminya.

Lebih lanjut, pihak Amnesty International juga melayangkan kritik keras terhadap kebijakan komersial yang dijalankan oleh pemegang hak komersial ajang balap, Liberty Media. Menurut Jakens, retorika tentang bagaimana dunia balap dapat menjadi kekuatan positif bagi kebaikan dunia akan kehilangan makna substansialnya apabila promotor mengabaikan rekam jejak integritas dari mitra bisnis yang mereka gandeng.

Baca Juga George Russell dan Tekanan Antonelli di Monza: Mimpi Buruk?

“Formula 1 menyatakan bahwa olahraga dapat menjadi kekuatan positif untuk kebaikan. Ini adalah kata-kata kosong jika F1 tidak peduli siapa mitra bisnis mereka. Otoritas di Ruanda dikenal luas atas praktik penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, serta pengekangan terhadap kebebasan berbicara,” tambah Jakens menyoroti aspek moral dari kerja sama strategis tersebut.

Sorotan tajam organisasi kemanusiaan ini juga diarahkan langsung kepada kepemimpinan Presiden Paul Kagame yang telah memegang kendali pemerintahan sejak tahun 2000 silam. Berdasarkan laporan dari berbagai lembaga pemantau internasional termasuk Human Rights Watch, pemerintah Ruanda disebut-sebut memberikan dukungan militer kepada kelompok pemberontak M23 di Republik Demokratik Kongo yang kerap dikaitkan dengan berbagai pelanggaran berat.

Kampanye promosi pariwisata nasional yang gencar terpampang melalui berbagai kerja sama strategis dengan klub-klub sepak bola elite Eropa, tim bola basket NBA, hingga liga American Football NFL, kini resmi menancapkan pengaruhnya di ajang balap jet darat. Meski menghadirkan babak baru sejarah bagi benua Afrika, bayang-bayang kontroversi politik dan sosial dipastikan akan terus mengiringi persiapan menuju Grand Prix Afrika di masa depan.