Pembalap muda berbakat asal Spanyol, Pedro Acosta, mengungkapkan bahwa insiden tabrakan hebat yang melibatkan Francesco Bagnaia dan Fermin Aldeguer pada sesi Sprint MotoGP Qatar merupakan salah satu insiden paling mengerikan yang pernah ia saksikan dari jarak dekat dalam kurun waktu yang cukup lama. Kecelakaan horor tersebut terjadi saat para pembalap mendekati tikungan terakhir pada lap pembuka balapan singkat tersebut, menciptakan situasi menegangkan di barisan depan.
Dalam posisi persaingan yang ketat, Acosta berada tepat di antara Bagnaia dan Aldeguer ketika insiden nahas itu terjadi. Fermin Aldeguer berusaha melancarkan serangan untuk melakukan overtaking terhadap Acosta, namun perhitungan manuver tersebut meleset hingga akhirnya menabrak ban belakang motor yang dikendarai oleh Bagnaia. Benturan keras tersebut meluncurkan pembalap asal Italia itu ke udara dan berujung pada cedera patah tulang kaki bagi sang juara dunia.
Akibat insiden parah ini, pengawas balapan langsung mengibarkan bendera merah untuk menghentikan sesi secara sementara demi keamanan evakuasi. Sesi Sprint akhirnya dijadwalkan ulang dengan durasi 10 lap penuh, namun memori tentang kecelakaan mengerikan tersebut tetap meninggalkan kesan mendalam bagi Acosta, yang musim depan dipastikan akan menggantikan posisi Bagnaia di tim pabrikan Ducati Lenovo.
Saya melihatnya dari jarak dekat, ujar Pedro Acosta memberikan kesaksiannya selepas balapan Sprint berakhir, seperti dilaporkan oleh sumber media terkemuka. Sudah lama sekali saya tidak melihat kecelakaan parah seperti itu dari dekat di ajang MotoGP. Saya sangat berharap Pecco dalam kondisi baik-baik saja, karena itu adalah benturan yang sangat telak, dan semoga ia bisa segera pulih kembali untuk menghadapi sisa akhir pekan.
Dampak dari tabrakan tersebut membuat Bagnaia harus menderita patah pada dua tulang metatarsalnya. Meskipun mengalami cedera yang cukup serius, Acosta menilai bahwa rekan sesama pembalapnya itu sebenarnya masih cukup beruntung mengingat dahsyatnya potensi bahaya dari insiden tersebut. Ia lolos dari cedera yang jauh lebih fatal, ujar pembalap andalan Red Bull KTM Factory Racing itu saat mengulas kembali detik-detik kecelakaan.
Selain memberikan simpati kepada korban cedera, Acosta juga meluruskan pembelaan terhadap Aldeguer, yang tercatat baru kembali turun ke lintasan setelah absen panjang akibat patah tangan di Indonesia pada awal bulan Oktober lalu. Itu adalah percobaan menyalip yang sedikit prematur dan tergolong cukup agresif, tetapi saya juga sangat memahami posisi Fermin, karena ia sudah absen begitu lama dari balapan kompetitif, dan langsung tampil di akhir pekan pertama tentu tidak pernah mudah untuk kembali beradaptasi dengan motor MotoGP.
Baca Juga Piero Taramasso Jelaskan Alasan Lap MotoGP Brasil 2026 DipangkasBerbicara mengenai performa pribadinya di sepanjang akhir pekan Grand Prix Qatar, Acosta mencatatkan hasil yang jauh lebih baik dibandingkan sesi hari Jumat sebelumnya. Ia sukses mengamankan posisi finis di peringkat keenam setelah sebelumnya sempat kesulitan dan terlempar dari posisi sepuluh besar pada sesi latihan bebas penentuan.
Kendati demikian, pembalap berjuluk El Tiburon itu mengakui bahwa dirinya mengalami kendala teknis dalam memaksimalkan performa ban setelah balapan dihentikan dan dimulai ulang akibat insiden Bagnaia. Situasi ini dinilainya sangat mirip dengan kendala serupa yang pernah ia hadapi dalam salah satu prosedur start ulang pada seri balapan di Barcelona awal musim ini.
Start pertama berjalan dengan sangat baik, ungkap Acosta mengulas jalannya sesi Sprint di Qatar. Saya merasa sangat cepat, dan motor merespons penanganan dengan cukup baik. Namun pada balapan kedua, saya justru kesulitan membuat ban bekerja optimal dan gagal menemukan ritme balap yang tepat. Kita harus mencari tahu akar masalahnya, karena masalah persis seperti ini juga terjadi pada saya saat start ketiga di Barcelona.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!