Pandeglang, Nusantara Media  — Potret buram kemiskinan ekstrem kembali mencuat di Provinsi Banten. Di tengah gemuruh pembangunan, seorang ibu paruh baya bernama Sunarsih (46) harus bertaruh nyawa setiap kali hujan deras mengguyur wilayahnya.

Rumah tempat ia bernaung di Desa Margasana, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, kini dalam kondisi sangat memprihatinkan dan nyaris ambruk menimpa dirinya serta anak semata wayangnya.

Rumah yang lebih layak disebut gubuk tersebut berbahan dasar papan kayu dan bilik bambu yang kini telah lapuk dimakan usia. Kekhawatiran selalu menghantui malam-malam Sunarsih. Ketika langit Pandeglang mulai mendung, kecemasan seketika menyelimuti hatinya.

- Advertisement -

"Saya hanya bisa pasrah dan berdoa. Selama ini belum pernah dapat bantuan dari program sosial pemerintah," ujar Sunarsih dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca saat ditemui oleh awak media di kediamannya.

Bagi Sunarsih dan anak tunggalnya, hujan bukanlah berkah yang menyejukkan, melainkan teror yang menakutkan. Dinding bilik yang sudah miring dan keropos serta tiang penyangga yang mulai patah membuat bangunan tersebut bergoyang setiap kali diterpa angin kencang.

Atap rumah yang dipenuhi lubang memaksa ibu dan anak ini untuk terjaga sepanjang malam saat hujan deras turun. Mereka harus mencari sudut ruangan yang dirasa paling aman agar tidak basah kuyup, sembari berharap dinding rumah mereka tidak roboh seketika.

Kondisi tanpa suami dan tanpa pekerjaan tetap membuat wanita kelahiran 5 November 1979 ini tidak memiliki pilihan lain. Untuk menyambung hidup dan mengisi perut sehari-hari, Sunarsih hanya bisa mengandalkan belas kasih dan uluran tangan dari tetangga sekitar yang merasa iba dengan kondisinya.

Di tengah gencar-gencarnya pemerintah menyalurkan berbagai program jaminan sosial dan bantuan stimulan rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), nasib Sunarsih justru menjadi ironi yang menyayat hati.

Meski tetangga di sekitarnya kerap menerima bantuan sosial (bansos), nama Sunarsih seolah terlewatkan dan tidak pernah terdaftar dalam basis data penerima manfaat program pemerintah apa pun.

"Kesehariannya diisi dengan harapan agar ada pihak yang peduli dan mau membantu memperbaiki rumahnya yang sudah tidak layak huni," ungkap Een salah seorang warga setempat yang prihatin.

Kini, Sunarsih hanya bisa mengetuk pintu hati para dermawan, sukarelawan, maupun instansi pemerintah terkait—baik di tingkat Kabupaten Pandeglang hingga tingkat pusat—untuk memberikan uluran tangan sebelum terlambat.

Nyawa ibu dan anak ini kini berada di ujung tanduk di bawah ancaman runtuhnya atap rumah mereka sendiri.