Grand Prix Sao Paulo di Sirkuit Interlagos menyisakan akhir pekan yang sangat sulit bagi Ferrari, terutama setelah Lewis Hamilton harus puas menyelesaikan balapan yang mengecewakan di posisi kesembilan. Meskipun Kepala Tim Frederic Vasseur sempat menyatakan keyakinannya bahwa tim asal Maranello tersebut mampu melakukan pemulihan posisi dari barisan belakang saat sesi balapan dimulai, kenyataan di atas lintasan berkata lain. Di tengah kondisi trek yang basah dan lembap, mobil-mobil merah kesulitan untuk bersaing secara optimal di zona poin. Masalah utama tidak hanya datang dari aspek performa murni mobil, melainkan kembali terulangnya kelemahan krusial dalam hal manajemen strategi serta komunikasi antara garasi tim dan pembalap di atas lintasan.
Insiden paling disorot terjadi ketika hujan kembali turun dengan deras menjelang fase akhir balapan, memaksa para kontestan untuk segera meninggalkan ban kompon halus alias slick demi beralih menggunakan ban intermediate. Pada lap ke-62, juara dunia tujuh kali tersebut sedang berada di posisi kedelapan dan berupaya keras mendekati mobil Racing Bulls yang dikemudikan oleh Liam Lawson di depannya. Seandainya pembalap Inggris itu segera merespons panggilan tim untuk masuk ke jalur pit, ia berpotensi mengantisipasi laju kompetitor dan mengamankan posisi yang lebih baik. Namun, situasi justru berkembang menjadi rumit akibat miskomunikasi yang mencolok di internal garasi.
Carlo Santi selaku insinyur balap Hamilton sebenarnya telah memberikan instruksi tegas melalui radio untuk segera masuk ke dalam jalur pit guna memasang ban intermediate dengan seruan instruksi yang jelas agar pembalap segera masuk pit. Akan tetapi, keputusan diambil secara berbeda oleh sang pembalap yang secara sadar memilih untuk tetap bertahan di atas lintasan basah sebelum akhirnya melontarkan keluhan melalui sambungan radio tim. Tidak lama berselang, mobil bernomor 44 tersebut mengalami insiden putar arah atau testacoda, yang berakibat fatal pada hilangnya posisi di hadapan rekan setimnya sendiri, Charles Leclerc, yang melaju tepat di belakangnya.
Percakapan radio lanjutan antara sang pembalap dan sang insinyur kemudian membuka kejelasan mengenai akar permasalahan miskomunikasi tersebut di tengah kondisi cuaca yang berubah dengan cepat. Dalam transkrip komunikasi yang terekam, sang juara dunia sempat melontarkan pembelaan diri dengan menyatakan kebingungannya atas situasi cuaca yang mendadak memburuk tanpa informasi awal yang memadai. "Ah, cavolo. Non mi avevi detto che pioveva – si e giustificato Hamilton – pensavo di poter continuare, in pista mi stavo trovando bene. Dove sono adesso?" ucapnya mengekspresikan ketidaktahuannya sebelum akhirnya mendapatkan konfirmasi bahwa dirinya kini terlempar ke posisi kesembilan.
Baca Juga Albon: Williams Tak Bisa Sembunyikan Rahasia Set-UpMeskipun insiden tersebut dinilai tidak secara drastis merusak hasil akhir balapan mengingat potensi maksimal mobil pada hari itu memang sulit mencapai posisi tujuh besar, peristiwa ini tetap menjadi sorotan tajam. Kegagalan mengelola momen-momen krusial di bawah tekanan membuktikan bahwa kubu Maranello masih memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk mencapai kesempurnaan operasional. Situasi ini mengindikasikan bahwa sinergi antara pembalap dan tembok pit masih membutuhkan kalibrasi ulang agar insiden serupa tidak kembali terulang pada seri-seri krusial berikutnya di kejuaraan dunia Formula 1.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!