Pembalap senior Lewis Hamilton secara terbuka mengakui bahwa dirinya sempat meragukan kapasitas Red Bull dalam membangun mesin Formula 1 yang mampu menyaingi dominasi pabrikan mapan seperti Mercedes dan Ferrari. Namun, seiring berjalannya waktu dan bukti nyata di atas lintasan, skuad yang bermarkas di Milton Keynes tersebut berhasil membalikkan semua prediksi dan membungkam para pengkritiknya.

Kolaborasi strategis antara Red Bull dan Ford dalam proyek power unit mandiri terbukti langsung bertaji sejak debutnya musim ini. Mesin pembakaran internal (ICE) buatan mereka bahkan telah diidentifikasi oleh FIA sebagai tolok ukur baru di grid F1 saat ini. Keperkasaan mesin tersebut langsung dioptimalkan oleh Max Verstappen untuk menyegel kemenangan gemilang di Grand Prix Bahrain dan Singapura, menunjukkan bahwa transisi teknis ini berjalan jauh di luar perkiraan banyak pihak.

Ketika diminta memberikan tanggapan mengenai pandangan Isack Hadjar yang menyebut bahwa Ferrari memiliki mobil tercepat di Singapura, Hamilton memilih untuk bersikap diplomatis sekaligus memuji talenta muda tersebut. Juara dunia tujuh kali itu menegaskan bahwa setiap pembalap bisa memiliki sudut pandang berbeda, namun konsistensi dan pencapaian Red Bull selama bertahun-tahun sama sekali tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para rival.

- Advertisement -
Advertisement

"Pertama-tama, saya pikir Isack adalah seorang pembalap yang luar biasa. Kita tentu memiliki pendapat yang berbeda di sana. Pada akhirnya, mereka telah melakukan pekerjaan yang luar biasa," ujar Hamilton mengenai performa rivalnya tersebut. Ia menambahkan bahwa dirinya pernah meremehkan kemampuan Red Bull di masa lalu, mengira tim tanpa warisan sejarah sasis klasik seperti McLaren atau Ferrari tidak akan mampu mendominasi.

Lebih lanjut, pembalap asal Inggris itu menyoroti tantangan besar dalam merancang power unit F1 yang kompetitif tanpa pengalaman historis seluas pabrikan tradisional. Menurutnya, kompleksitas kekayaan intelektual serta sumber daya masif yang dimiliki Mercedes atau Ferrari seharusnya membuat pabrikan lain kesulitan mengejar, tetapi Red Bull justru sukses mematahkan asumsi tersebut dengan meracik mesin terbaik di grid saat ini.

Baca Juga Klasemen F1 2026: Antonelli Makin Tak Terkejar Usai Menang di Monza

"Dan sekali lagi, mereka membuktikan kami salah, membuktikan semua orang salah lagi, dan mereka membangun mesin terbaik," imbuh Hamilton dengan nada penuh kekaguman. Meski sempat menghadapi awal musim yang sedikit goyah, Red Bull kini kembali menunjukkan kapasitas mereka sebagai kekuatan dominan yang didukung oleh mobil kompetitif, jajaran pembalap papan atas, serta kepemimpinan yang solid di balik layar.

Lewis Hamilton dan Max Verstappen di F1
Lewis Hamilton memberikan analisis mendalam terkait performa mesin Red Bull Ford musim ini. (Foto: Simon Galloway / LAT Images via Getty Images)

Perkembangan pesat power unit Red Bull Powertrains ini praktis mengancam posisi para rival berpengalaman. Komentar Hamilton ini turut menguatkan pandangan dari pembalap McLaren, Oscar Piastri, yang sebelumnya menilai bahwa Red Bull telah bertransformasi menjadi paket mobil paling konsisten cepat dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus membuktikan bahwa peta kekuatan teknis F1 kini telah resmi bergeser.