Aksi memukau ditunjukkan oleh pembalap asal Italia, Fabio Di Giannantonio, yang sukses mengamankan posisi ketiga pada sesi Sprint Race MotoGP Mandalika. Di balik pencapaian impresif di atas Desmosedici miliknya yang tampil sangat kompetitif di luar dugaan awal, sang pembalap justru menjadi pusat perhatian atas kekacauan dramatis yang terjadi di tikungan pertama. Insiden awal lomba tersebut memicu efek domino yang berujung pada jatuhnya beberapa pesaing utama, termasuk rekan senegaranya Marco Bezzecchi dan Raul Fernandez yang sama-sama dijagokan di barisan depan.
Memulai balapan dari posisi paling dalam di antara rombongan pembalap yang berjejer rapat saat pengereman pertama, pembalap tim VR46 tersebut mengaku sama sekali tidak melihat persis insiden nahas yang menimpa para rivalnya. Kepada media, ia menceritakan detik-detik menegangkan ketika motornya mendadak bersinggungan dengan pembalap lain tepat di tikungan pembuka sirkuit kebanggaan masyarakat Indonesia tersebut.
Partenza? Io non so che e successo. Ho frenato avanti. Quando sono entrato ho sentito un contatto e mi e entrata la prima e poi quando sono uscito ero al limitatore, ujar Di Giannantonio mengenang momen kacau di awal lomba saat diwawancarai oleh Sky Sport MotoGP. Ia menambahkan bahwa dirinya merasakan hantaman keras dari samping karena posisinya yang berada di jalur paling dalam, sehingga menduga posisinya terjepit di antara pembalap lain.
Io mi sono sentito colpire, ero all’interno e quindi ho pensato che o mi avessero tamponato o avessimo fatto un panino. Devo chiedere agli altri, imbuh pembalap berjuluk Diggia tersebut sambil melempar candaan ringan terkait warna motor timnya yang terlalu mencolok di lintasan. Dengan nada bercanda ia menyebutkan, Siamo troppo gialli, ci si vede troppo, e facile centrarci, devo correre con la livrea grigia, cosi non mi vedono.
Terlepas dari kekacauan di awal balapan, performa keseluruhan motor Ducati yang ditungganginya layak mendapatkan apresiasi tinggi karena mampu bertarung di barisan terdepan. Bahkan, pembalap asal Roma itu merasa bahwa podium ketiga yang diraihnya sebenarnya masih menyimpan potensi besar untuk meraih hasil yang jauh lebih baik jika tidak terkendala suhu ban depan.
Baca Juga Moto3 Resmi Berubah Total Mulai 2028, Ini Alasan Yamaha Jadi Pemasok TunggalSono contento del potenziale che ho avuto in gara, ne avevo di piu rispetto a Ogura, ero comodo con quel ritmo ma non riuscivo ad attaccare perche ogni volta che mi avvicinavo mi si scaldava tanto la gomma e diventava un rischio. Abbiamo perso del tempo li, avevamo potenziale per fare anche meglio, ungkapnya menganalisis jalannya balapan secara mendalam.
Menutup sesi wawancara, ia juga membandingkan performa motor pabrikan Borgo Panigale dengan motor rival utama mereka di lintasan, yakni Aprilia. Menurutnya, meskipun mereka memiliki paket kendaraan yang sangat kompetitif, pabrikan Noale memiliki keunggulan margin kecepatan di tikungan cepat yang membuat para pembalap harus mengambil risiko lebih besar dalam hal pengereman keras.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!