Dunia Formula 1 kembali dihebohkan dengan perdebatan mengenai masa depan kursi kepemimpinan di tim Ferrari, di mana juara dunia dua kali Emerson Fittipaldi secara terbuka meragukan kapabilitas Christian Horner untuk memimpin skuad asal Maranello tersebut. Perbincangan ini mencuat setelah Horner sempat melontarkan komentar kontroversial yang menyatakan bahwa bergabung dengan tim Kuda Jingkrak merupakan sebuah mimpi, meskipun ia kemudian meralat pernyataan tersebut dan mengklaim ucapannya telah keluar dari konteks aslinya.

Di tengah rumor yang sempat mengaitkannya dengan bursa transfer manajemen, posisi Fred Vasseur justru mendapatkan pembelaan kuat dari para legenda balap. Fittipaldi, dalam wawancaranya dengan The Sun, dengan tegas menyatakan bahwa keputusan untuk mendepak Vasseur dari posisinya saat ini adalah sebuah tindakan yang sangat tidak masuk akal. Menurutnya, Vasseur memiliki gaya kepemimpinan yang sangat mirip dengan arsitek kejayaan masa lalu Ferrari, Jean Todt, yang sukses mengantar Michael Schumacher mendominasi era 2000-an.

Fittipaldi memiliki kedekatan tersendiri dengan Vasseur karena pengalaman masa lalu mereka di ajang balap. "Saya mengenal Fred Vasseur dengan baik karena ketika saya mengelola A1 Team Brazil, Fred mengurus kami; dia adalah pemimpin teknis saya," ujar Fittipaldi mengenang kedekatan profesional mereka di masa lalu yang penuh dengan tantangan teknis.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, Fittipaldi memuji karakter kepemimpinan Vasseur yang dinilai sangat tangguh dan cocok dengan DNA kompetitif tim asal Italia tersebut. "Dia adalah sosok yang fantastis untuk diajak bekerja sama. Dia kuat dan memiliki pendekatan yang sangat mirip dengan Jean Todt. Akan sangat gila bagi Ferrari untuk menyingkirkan Fred. Dia adalah pemimpin yang hebat, seorang pembalap, dan pria yang sangat tangguh," tambahnya menegaskan kapasitas sang Prinsipil Tim.

Di sisi lain, keraguan terhadap daya tarik Christian Horner juga datang dari mantan petinggi operasional Red Bull, Richard Hopkins. Berdasarkan pengalamannya sendiri ketika pindah dari McLaren ke Red Bull demi bekerja sama dengan perancang jenius Adrian Newey, Hopkins meragukan apakah Horner memiliki daya tarik magnetis yang sama jika seandainya ia benar-benar mendarat di garasi Ferrari.

Baca Juga Norris Kehilangan Tiga Persepuluh Detik, Tetap Pole di Madring F1

Hopkins menceritakan bagaimana daya tarik seorang insinyur jenius mampu mengubah keputusan karier para profesional di paddock Formula 1. "Saya meninggalkan McLaren untuk pergi ke Red Bull terutama karena Adrian ada di sana, karena saya berpikir, 'Ya Tuhan, jika Adrian berada di tim ini, hal-hal besar akan terjadi'. Semua orang ingin pergi dan bekerja untuk tim tempat Adrian Newey berada, memimpin sisi teknis," jelas Hopkins.

Dengan dinamika internal yang terus bergejolak dan persaingan ketat di papan atas grid Formula 1, posisi kepemimpinan di Maranello tetap menjadi sorotan utama para pengamat. Dukungan penuh yang diberikan kepada Fred Vasseur menunjukkan bahwa stabilitas internal saat ini jauh lebih diutamakan oleh manajemen Ferrari daripada berspekulasi dengan figur eksternal seperti Christian Horner.