Keberhasilan Elfyn Evans merengkuh gelar juara dunia reli membawa sebuah cerita tersendiri di balik kemenangannya yang gemilang. Pereli asal Wales ini sebelumnya telah merasakan pahitnya finis sebagai runner-up sebanyak lima kali dalam kariernya. Sepanjang musim ini, ia bahkan sempat memimpin klasemen cukup lama sebelum rekan setimnya muncul sebagai pesaing gelar yang sangat ketat hingga seri pemungkas.
Dinamika menarik tersaji di garasi tim Toyota, mengingat kedua pereli berada di fase karier yang sangat kontras. Di satu sisi, Evans akan segera menginjak usia 38 tahun, sementara sang penantang muda asal Swedia baru berusia 25 tahun. Perbedaan usia dan pengalaman ini memberikan warna tersendiri dalam persaingan ketat di level tertinggi ajang reli dunia.
Dalam wawancaranya bersama situs web asal Jepang, Rallyplus, Evans secara terbuka mengenang kembali dua musim pahit yang paling membekas dalam ingatannya. Menurutnya, kegagalan pada masa lalu sempat membuat impian meraih gelar terasa begitu jauh dari genggaman. “Ada dua musim ketika rasanya gelar juara benar-benar berada dalam jangkauan. Salah satunya adalah tahun lalu. Kami kehilangan segalanya di seri penutup musim di Arab Saudi, tetapi sampai titik itu kami sangat dekat dengan gelar,” kenang Evans.
Selain musim lalu, momen penuh kekecewaan juga dirasakannya pada tahun 2020 ketika faktor cuaca salju menghancurkan peluangnya di Monza. Peralihan mendadak ke reli aspal yang dibarengi turunnya salju benar-benar mengejutkan tim secara keseluruhan. Kenangan pahit tersebut kini telah terbayar lunas setelah kerja keras bertahun-tahun membuahkan hasil manis berupa trofi juara dunia yang selama ini diidam-idamkannya.
Meski telah berhasil mencapai puncak kariernya, pereli berpengalaman ini menegaskan bahwa keputusan untuk gantung helm sama sekali belum masuk dalam agendanya. Ia memastikan bahwa masa depannya di dunia reli masih akan berlanjut dalam beberapa musim ke depan sesuai rencana awal. “Saya sudah memutuskan sejak setahun lalu bahwa saya akan terus membalap secara penuh setidaknya untuk dua musim berikutnya, yaitu 2026 dan 2027. Jadi memenangkan gelar sama sekali tidak mengubah rencana saya,” tegasnya.
Baca Juga Sebastien Loeb Ungkap Alasan Jajal Mobil Reli 2027Kendati demikian, status baru sebagai juara dunia justru menghadirkan sebuah dilema unik yang harus ia selesaikan bersama sang navigator, Scott Martin. Evans dihadapkan pada pilihan antara menggunakan nomor keramat 1 atau tetap setia mengenakan nomor 33 yang telah menemaninya lama. “Saat ini, preferensi saya sendiri adalah untuk terus menggunakan nomor 33, tetapi Scott sangat ingin menggunakan nomor 1. Kami masih harus mendiskusikannya,” ungkap Evans menjelaskan situasi internal mereka.
Bagi pereli andalan tersebut, nomor 33 bukan sekadar angka penanda di bodi kendaraan, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian dari identitas dirinya. Perjalanan panjang yang dilalui bersama nomor tersebut membuat ikatan emosionalnya begitu kuat. “Saya merasa bahwa nomor 33 telah menjadi bagian dari identitas saya selama beberapa tahun terakhir. Saya tidak berpikir bahwa memenangkan gelar dunia mengubah hal tersebut,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!