Pembalap asal Italia, Francesco Bagnaia, harus puas menyelesaikan balapan Sprint Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang dengan finis di posisi keenam. Meski hasil tersebut sekilas tampak seperti sebuah kemajuan kecil di tengah rentetan kesulitan yang ia hadapi belakangan ini, sang juara dunia tiga kali sama sekali tidak menunjukkan antusiasme berlebihan menanggapi pencapaian tersebut di hadapan para awak media.

Selepas merampungkan sesi balapan pendek tersebut, pebalap andalan pabrikan asal Borgo Panigale ini secara terbuka mengeluhkan kendala pelik yang berkaitan dengan degradasi ban belakang motornya. Masalah cengkeraman tersebut bahkan sudah terasa sejak awal jalannya balapan, memaksa dirinya harus berjuang keras demi mempertahankan posisi di barisan depan setelah melakukan start yang sebenarnya cukup menjanjikan di Tikungan 1.

Dalam wawancara eksklusif bersama stasiun televisi penyiaran, Bagnaia memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi sulit yang ia alami di atas lintasan Sepang yang terkenal menguras fisik dan komponen mesin. “Saya sangat beruntung karena rintikan air hujan sempat turun, sebab pada lap ketiga ban belakang saya sudah habis dan saya harus berjuang setengah mati,” ungkap Bagnaia menceritakan detik-detik krusial di atas lintasan balap.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, pembalap bernomor start 63 tersebut menjabarkan bahwa dirinya sempat mencatatkan start yang bagus serta mampu melewati tikungan pertama dengan baik untuk berada di kelompok depan. Namun, keterbatasan traksi membuatnya tidak mampu mengimbangi kecepatan para pembalap lain yang berada di depannya, hingga akhirnya harus melebar dan mempercepat keausan kompon ban jauh di luar batas normal.

Analisis data telemetri tim memperlihatkan adanya anomali performa yang signifikan pada kuda besi yang dikendarai oleh pembalap asal Chivasso ini jika dibandingkan dengan para pengguna motor Ducati lainnya di lintasan. Gejala slip pada ban belakang terjadi tanpa henti mulai dari detik pertama motor mulai dimiringkan ke arah tikungan hingga posisi motor kembali tegak lurus saat keluar tikungan.

Baca Juga Jorge Martin Genjot Pemulihan Cedera Jelang MotoGP Sepang

Situasi teknis tersebut menciptakan problem absolut berupa hilangnya grip secara keseluruhan, yang pada gilirannya memicu gesekan berlebihan dan membuat umur ban belakang hanya bertahan selama tiga putaran saja. Mengingat karakteristik Sirkuit Sepang yang memiliki banyak tikungan panjang menuntut kestabilan ban, kendala ini praktis melumpuhkan gaya balap natural sang juara dunia.

Menutup sesi wawancara, pembalap andalan Ducati ini menegaskan ketegaran mentalnya dengan mengingatkan kembali publik bahwa rekor catatan waktu terbaik di Sirkuit Sepang yang ia ukir pada musim 2024 masih berdiri kokoh atas namanya. “Arrivati a questo punto conta poco, io so benissimo cosa sono in grado di fare ed e stato dimostrato l'anno scorso di Motegi,” tegas Bagnaia dengan penuh keyakinan untuk menepis segala keraguan atas kapasitas teknisnya di kancah kejuaraan dunia balap motor.