Pembalap VR46, Fabio Di Giannantonio, melontarkan candaan bernada ekstrem bahwa dirinya nyaris mencelakakan diri sendiri dalam sebuah insiden menegangkan di sela-sela balapan sprint Grand Prix Australia akhir pekan lalu. Momen dramatis tersebut terjadi ketika ia terlibat duel sengit di atas lintasan melawan debutan LCR Honda, Diogo Moreira, yang memacu motornya dengan agresivitas tinggi sepanjang 13 putaran penuh.
Perjuangan Di Giannantonio pada balapan pendek tersebut sebenarnya tidak dimulai dengan mulus. Selepas lampu padam, ia langsung dikejutkan oleh embusan angin kencang khas Sirkuit Phillip Island pada lap pembuka. Hantaman angin tersebut membuat posisinya merosot tajam di barisan belakang, memaksa sang pembalap asal Italia ini harus bekerja ekstra keras untuk merangkak naik memperbaiki posisi di barisan depan.
Di tengah upayanya mengejar ketertinggalan, Di Giannantonio harus meladeni perlawanan sengit dari Diogo Moreira. Pembalap muda tersebut dikenal tampil habis-habisan dan kerap melancarkan serangan balasan yang gigih, meski secara kecepatan murni kadang tertinggal dari para pesaing di sekitarnya. Situasi ini mendorong Di Giannantonio untuk mencoba berkomunikasi di atas lintasan demi efisiensi waktu balapan mereka berdua.
Menggambarkan insiden tersebut melalui video di balik layar yang dirilis oleh situs resmi MotoGP, Di Giannantonio menjelaskan niat awalnya saat mendekati pembalap debutan itu. "Saya berada di depan Moreira," ujar Di Giannantonio mengenang duel ketat tersebut. "Kapan pun Anda mendahuluinya, dia selalu membalas Anda kembali. Bahkan jika dia lebih lambat satu detik, dia akan mendahului Anda lagi."
Niat hati ingin memberikan gestur tangan agar Moreira mengekor di belakangnya demi menjaga ritme, Di Giannantonio justru mendapati dirinya dalam bahaya besar. Embusan angin kencang di Phillip Island nyaris merenggut keseimbangannya di atas motor Ducati Desmosedici yang sedang melaju kencang di lintasan lurus.
"Saya mendahuluinya di Tikungan 1 dan berpikir, 'Saya akan memberi isyarat kepadanya untuk tetap di belakang'. Anda tidak mengerti: saya hampir membunuh diri sendiri saat mencoba memberi isyarat kepadanya, karena angin. Ya Tuhan," ungkap Di Giannantonio menggambarkan kengerian sesaat akibat terjangan angin kencang tersebut.
Meski sempat dibuat kewalahan oleh gaya balap agresif Moreira, Di Giannantonio tetap mengakui kelihaian sang rookie. Ia menilai strategi pembalap Honda tersebut cukup masuk akal dalam format balapan pendek yang menuntut pengerahan tenaga maksimal sejak tikungan pertama.
Baca Juga Toprak yakin Proyek MotoGP Yamaha Menuju Era 850cc"Saya pikir dia cerdas karena, sial, saya melaju dua kali lebih cepat. Secara teori, Anda harus menunggu, mengikuti, lalu berusaha maju. Dalam balapan sprint, dia memberikan segalanya," puji Di Giannantonio terhadap pendekatan agresif yang diterapkan oleh sang rival muda.
Menatap paruh kedua balapan, kecepatan Di Giannantonio sebenarnya sangat mengesankan di fase-fase akhir sprint. Ia bahkan meyakini bahwa dirinya memiliki potensi untuk memangkas jarak dengan kelompok terdepan yang diisi oleh kakak-beradik Marquez jika jumlah putaran ditambah menjadi lebih panjang.
Kendati demikian, ia juga menyadari bahwa dominasi para pembalap terdepan, khususnya Marc Marquez, mungkin tidak sepenuhnya terlepas dari manajemen ban dan ritme balap setelah insiden jatuhnya Jorge Martin yang terpantau dari papan pit.
"Tentu saja, saya menjalani balapan yang hebat, tetapi saya terus memacu motor. Dan saya cukup yakin Marc sedang mengatur ritmenya setelah melihat di papan pit, sayangnya, Martin keluar. Jadi, saya pikir kecepatan kami kurang lebih sama. Oleh karena itu, dalam balapan yang lebih panjang, itu mungkin bisa menjadi pertarungan yang hebat," pungkasnya menutup analisis balapan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!