Sebuah fakta mengejutkan kembali terkuak dari balik layar pertarungan Formula 1 modern, di mana Christian Horner hampir saja meninggalkan posisinya demi bergabung dengan kubu rival terbesarnya. Seandainya sejarah berjalan sedikit berbeda, lanskap kompetisi ajang balap jet darat elit ini mungkin akan memiliki cerita yang sama sekali lain. Alih-alih menjadi musuh abadi bagi Toto Wolff, pimpinan tim asal Inggris tersebut nyaris saja mendarat di Brackley untuk memimpin panji-panji pabrikan asal Jerman tersebut pada akhir tahun 2012 silam.

Kisah menarik ini terungkap melalui autobiografi yang ditulis oleh mantan petinggi tim berbasis di Milton Keynes tersebut, yang merangkum memori perjalanan panjangnya di dalam paddock Formula 1. Berdasarkan kutipan yang beredar luas menjelang peluncuran buku tersebut, terungkap sebuah negosiasi rahasia yang digagas langsung oleh mendiang legenda balap asal Austria, Niki Lauda. Upaya tingkat tinggi ini dilakukan untuk membajak sang manajer ulung tepat di tengah puncak gelombang kesuksesan pertamanya bersama pembalap bintang asal Jerman, Sebastian Vettel.

Pertemuan tersebut terjadi secara diam-diam pada periode libur Natal tahun 2012, tidak lama setelah perayaan gelar juara dunia ketiga secara beruntun bagi skuad minuman berenergi tersebut. Dalam memoarnya, Horner mengaku sama sekali tidak menyangka ketika juara dunia tiga kali tersebut mendatangi kediamannya secara langsung. Niki Lauda datang membawa misi khusus dengan menyodorkan tawaran finansial bernilai fantastis agar sang manajer bersedia menyeberang meninggalkan markas lamanya demi tantangan baru di bawah bendera pabrikan Jerman yang sedang membangun kekuatan.

- Advertisement -
Advertisement

Dalam percakapan rahasia yang diungkapkan dalam buku tersebut, bujukan yang dilayangkan oleh sang legenda balap sangatlah menggugah secara finansial maupun profesional. Mantan pimpinan non-eksekutif kubu perak tersebut secara terbuka menyatakan bahwa struktur finansial mereka mampu memberikan bayaran yang jauh melampaui apa yang didapatkan di tempat lamanya saat itu. Tawaran menggiurkan ini dirancang untuk menempatkannya pada posisi strategis di jajaran manajemen puncak tim yang baru saja merintis jalan menuju dominasi era mesin hibrida.

Baca Juga Van Amersfoort Racing Andalkan Pengalaman Deligny dan David untuk F3 2027

Kendati demikian, pinangan mewah tersebut pada akhirnya harus ditolak mentah-mentah demi menjaga prinsip dasar profesionalisme dan hubungan personal. Keputusan tersebut didasari atas rasa hormat serta ikatan emosional yang mendalam terhadap sosok pendiri perusahaan, mendiang Dietrich Mateschitz. Kesetiaan ini terbukti berbuah manis ketika musim kompetisi berikutnya kembali berpihak kepada mereka melalui raihan gelar juara ganda sebelum era regulasi baru dimulai, sementara posisi manajemen operasional di kubu rival akhirnya jatuh ke tangan tokoh pimpinan asal Austria lainnya.