Jalan hidup seorang atlet sering kali membawa mereka ke tikungan yang tidak terduga, jauh melampaui garis finis yang pernah dibayangkan sebelumnya. Bagi Simona de Silvestro, satu babak dalam kariernya membawanya begitu dekat dengan impian masa kecil untuk membalap di ajang Formula 1 pada tahun 2014, sebelum akhirnya impian itu perlahan memudar karena kendala finansial yang pelik. Namun, siapa sangka bahwa kegagalan menembus kasta tertinggi balap roda terbuka tersebut justru membuka pintu menuju petualangan baru di cabang olahraga yang sama sekali asing baginya, yang berujung pada penampilan gemilang di ajang Olimpiade Musim Dingin di Italia.

Jauh sebelum lintasan es dan kereta luncur bobsleigh masuk dalam kamus hidupnya, ambisi terbesar de Silvestro terletak sepenuhnya di dunia motorsport. Memulai karier dari gokar pada usia enam tahun di Swiss, ia tumbuh dengan menyaksikan kejayaan Michael Schumacher bersama Ferrari. Kecintaannya pada kecepatan mengalahkan cabang olahraga lain seperti tenis, dan menuntunnya pada satu tujuan utama. "Seperti pembalap mana pun, terutama di Eropa, Formula 1 adalah tujuannya," ungkap de Silvestro kepada Speedcafe. Ia mengenang bagaimana dirinya selalu menonton balapan tersebut bersama sang ayah, menanamkan tekad bulat di kepalanya untuk menjadi seorang pembalap Formula 1.

Tekad tersebut membawanya melintasi Atlantik dari Swiss ke Amerika Serikat pada usia 18 tahun untuk bersaing di Formula BMW dan Formula Atlantic. Setelah meraih empat kemenangan dan finis di posisi ketiga kejuaraan Formula Atlantic 2009, ia melangkah ke ajang IndyCar pada tahun 2010. Dampaknya langsung terasa ketika ia finis di posisi ke-14 pada debutnya di Indianapolis 500 dan menyabet gelar Rookie of the Year. Puncak performanya di IndyCar terjadi tiga tahun kemudian saat ia mengamankan posisi kedua di jalanan Houston, sebuah pencapaian langka yang menjadikannya wanita ketiga yang naik podium IndyCar setelah Sarah Fisher dan Danica Patrick, sekaligus wanita pertama yang melakukannya di sirkuit jalan raya.

- Advertisement -
Advertisement

Melihat kembali masa-masa tersebut, de Silvestro merasa bahwa musim gemilang itu membuktikan kapasitasnya. Namun, keputusan setelahnya membawa trajektori karier yang rumit. Pada tahun 2014, sebuah peluang emas datang ketika tim Sauber menunjuknya sebagai pembalap afiliasi dalam program pengembangan yang mencakup pengujian, simulator, dan persiapan fisik untuk mengincar kursi balap tahun 2015. Meski telah merampungkan lima hari pengujian dengan hasil positif, kesepakatan itu kandas di tengah jalan akibat situasi finansial tim yang sulit serta tuntutan sponsor yang besar.

Baca Juga Perang Timur Tengah Ancam Bahrain dan Saudi, F1 Bisa Tanpa Balapan April

"Dalam satu arti itu sangat dekat. Sangat dekat dalam arti saya melakukan lima hari tes dan semuanya berjalan cukup baik," jelas de Silvestro mengenang momen krusial tersebut. Ia menyayangkan kenyataan bahwa kegagalan tersebut terjadi akibat faktor di luar kendalinya, di mana ketiadaan dukungan finansial masif memaksa impian Formula 1 yang sudah di depan mata harus pupus begitu saja, meninggalkan luka tersendiri sebelum akhirnya ia menemukan lembaran baru yang membawanya bertransformasi menjadi seorang atlet Olimpiade.