Insiden panas kembali mewarnai paddock MotoGP setelah Pedro Acosta meluapkan kekesalannya usai merampungkan balapan utama di Sirkuit Mandalika. Pembalap muda asal Murcia yang memperkuat tim pabrikan tersebut sukses menyentuh garis finis di posisi kelima, sebuah hasil yang sejatinya cukup kompetitif di tengah ketatnya persaingan kelas premier. Namun, alih-alih merayakan performa impresifnya di atas lintasan, bintang muda berbakat ini justru memilih menyoroti aspek regulasi teknis yang dinilainya sangat merugikan esensi balap motor murni.

Sepanjang balapan akhir pekan ini, jalannya lomba diwarnai oleh aksi salip-menyalip yang dramatis, terutama duel sengit antara dirinya dengan juara dunia berstatus legenda hidup, Marc Marquez. Pertarungan ketat ini tidak hanya menguras energi fisik kedua pembalap, tetapi juga sangat bergantung pada manajemen parameter teknis yang rumit, khususnya terkait aturan tekanan ban minimum yang ditetapkan oleh penyelenggara kejuaraan dunia. Seusai balapan, pembalap andalan KTM tersebut melontarkan kritik pedas secara terbuka kepada awak media, termasuk laporan eksklusif dari kolaborator Manuel Pecino yang dilansir dari Motosan.es.

Secara terbuka, pembalap berjuluk El Tiburon de Mazarron itu menilai aturan tekanan ban saat ini sebagai regulasi paling konyol yang pernah diterapkan dalam sejarah kejuaraan. Ia merujuk pada insiden yang menimpa rival senegaranya, Jorge Martin, sehari sebelumnya untuk memperkuat argumen logisnya. Menurutnya, mustahil bagi seorang pembalap maupun kepala mekanik tim untuk memprediksi secara akurat dinamika balapan di masa depan, mengingat situasi di lintasan selalu berubah secara drastis tergantung pada posisi pembalap lain di depan mereka.

- Advertisement -
Advertisement

Lebih lanjut, pembalap berbakat tersebut menjelaskan bahwa dirinya dan Marc Marquez sempat terjebak dalam siklus saling mendahului yang justru menghabiskan banyak waktu berharga. Akibat pertarungan internal yang cukup panjang tersebut, ritme balapan mereka terganggu dan memberikan kesempatan bagi kelompok pembalap di belakang untuk mendekat. Ia meyakini bahwa waktu lima detik yang terbuang akibat duel tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjaga jarak dan bertarung di barisan terdepan demi memperebutkan posisi podium.

Baca Juga Bagnaia Buka Suara: "Cinta Saya untuk Ducati Tak Berubah, Keputusan Ada di Tangan Mereka"

Selain menyoroti masalah teknis di atas lintasan, sang pembalap juga menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan sanksi finansial atau denda yang dijatuhkan kepada para pembalap. Sanksi tersebut biasanya diberikan ketika seorang pembalap berhalangan hadir dalam acara jumpa penggemar atau komitmen promosi resmi lainnya. Ia menegaskan bahwa pihak penyelenggara seharusnya lebih manusiawi dan memahami kondisi fisik serta situasi personal setiap pembalap yang sedang berjuang di batas kemampuan maksimal mereka sepanjang akhir pekan lomba yang melelahkan.