Pedro Acosta mengaku sempat dilanda ketakutan luar biasa sebelum balapan MotoGP Austria dimulai. Bayangkan, sehari sebelumnya ia baru saja melakukan kesalahan yang ia sebut sebagai "kesalahan paling memalukan" dalam kariernya, dan di sesi warm-up pagi harinya ia kembali terjatuh. Tekanan begitu besar, namun ia bangkit dan mempersembahkan kemenangan dramatis untuk KTM di hadapan publik sendiri.
Tekad Seorang Acosta
Dalam sesi jumpa pers usai balapan, Acosta mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara pada diri sendiri. "Saya cukup takut di awal balapan. Pertama, saya membuat kesalahan paling memalukan kemarin, lalu pagi ini saya terjatuh karena tidak ingin membuat kesalahan lagi. Saat saya keluar, saya berkata, 'oke, jika kita terjatuh hari ini, saya sudah tiga tahun tanpa kemenangan. Kesempatan ini tidak akan datang lagi jika tidak hari ini,'" ujarnya. Kini, ia menjadi pembalap non-Aprilia/Ducati pertama yang menang di balapan kering sejak Alex Rins pada 2023.
Kemenangan ini terasa istimewa karena KTM telah lama menanti. Pabrikan asal Austria itu terakhir kali menang di GP Thailand 2022. Acosta pun menyadari betul bahwa peluangnya untuk menang bersama KTM semakin tipis, mengingat ia akan pindah ke Ducati pada 2027. "Ada momen di mana ini menjadi personal karena saya mampu melakukannya, tetapi saya tidak punya banyak kesempatan dalam tiga tahun ini karena Ducati dan Aprilia berada di dunia yang berbeda dibanding tiga pabrikan lainnya," tambahnya.
Balapan itu sendiri tidak berjalan mulus. Start buruk sempat membuat posisinya terpuruk, tetapi ia dengan sabar menyalip satu per satu rivalnya. Pada lap kesembilan dari 28, ia merebut lead dan tak pernah melepaskannya. Keunggulan sekitar satu detik ia pertahankan hingga garis finis. Kemenangan ini juga mengakhiri paceklik KTM dan memberi angin segar bagi tim yang bermarkas di Mattighofen tersebut.
Baca Juga Moreira Frustrasi Gagal Manfaatkan Terobosan di MisanoInsiden di sprint race sehari sebelumnya benar-benar menjadi pelajaran berharga. Acosta terjatuh karena kehilangan titik pengereman di Tikungan 2 saat sedang membaca meteran bahan bakar di dashboard. Kesalahan yang terbilang konyol, namun ia mampu bangkit. Setelah balapan, ia bahkan melakukan selebrasi unik dengan memperagakan ulang crash-nya dalam gerakan lambat di lap cooldown, membiarkan motornya jatuh ke aspal lalu ia ikut menjatuhkan diri. "Tidak ada cara lain. Setelah kekacauan paling konyol dalam karier saya, tidak ada cara lain untuk merayakannya," ujarnya sambil tersenyum.
Kemenangan ini juga menjadi bukti bahwa Acosta memiliki mental juara. Meski masih berusia 22 tahun, ia telah menunjukkan kematangan dalam menghadapi tekanan. Kini ia menjadi salah satu pembalap yang diperhitungkan, dan KTM pun berharap momentum ini bisa berlanjut di sisa musim. Sementara itu, dominasi Ducati dan Aprilia masih menjadi tantangan besar bagi pabrikan lain, termasuk KTM. Namun setidaknya, di Spielberg, Acosta dan KTM membuktikan bahwa keajaiban masih mungkin terjadi.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!