Grand Prix Italia akhir pekan lalu menyajikan dua sisi sekaligus dari regulasi Formula 1 2026: aksi salip-menyalip yang spektakuler, namun juga frustrasi bagi para pembalap. Fenomena yang dijuluki 'yo-yo racing' itu mencapai puncaknya di sirkuit Monza yang ikonik, mengubah gaya balapan menjadi mirip aksi slipstream di sirkuit oval Amerika.
Max Verstappen menjadi pusat perhatian. Meski tidak memiliki performa power unit untuk benar-benar menantang Mercedes, ia mampu bertahan lama di belakang George Russell berkat efek slipstream raksasa dan mode overtake bertenaga listrik. Namun, begitu berhasil memimpin, Verstappen justru menjadi sasaran empuk karena kehabisan energi.
"Sejujurnya, saya kurang menikmati saat orang-orang melewati Anda seperti Anda kura-kura," keluh Verstappen. "Dengan mode overtake, semuanya tampak menjanjikan, tapi begitu saya memimpin, sangat sulit bertahan."
Fenomena ini juga terlihat pada kelompok pembalap lain, seperti Oscar Piastri dan Lewis Hamilton, serta Lando Norris dan Pierre Gasly. Para pembalap saling menempel tanpa bisa memisahkan diri karena efek tow yang besar di trek lurus Monza semakin memperkuat mode menyalip listrik, memungkinkan mobil yang lebih lambat untuk terus mengikuti.
Baca Juga McLaren Ngaku Belum Siap Rebut Pole di GP Italia, Norris KecewaAndrea Stella, prinsipal tim McLaren, menyoroti kesulitan mobil yang lebih cepat untuk maju jika tidak start di depan. "Butuh waktu lama bagi Lando untuk melewati Gasly," ujarnya. Senada, bos Ferrari, Fred Vasseur, mengakui bahwa kecepatan puncak dan overtaking menjadi masalah utama mereka.
Di tengah kekacauan ini, Kimi Antonelli tampil sebagai pemenang setelah comeback luar biasa. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah regulasi 2026 terlalu ekstrem? Monza membuktikan bahwa balapan bisa menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga mengorbankan aspek strategi dan murni kecepatan.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!