Nusantara Media – Sejarah kelam sekaligus heroik yang terjadi di tanah Banten kini hadir dalam format sinematik yang memukau. Film pendek berjudul "DAAN MOGOT - TRAGEDI SENJA DI LENGKONG" telah resmi dirilis melalui kanal YouTube BP Kebudayaan Banten. Film ini merupakan hasil kolaborasi antara BP Kebudayaan Banten sebagai pihak produksi dengan rumah produksi lokal ternama, Kremov Pictures, yang berhasil memvisualisasikan perjuangan perwira muda Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan [user info].
Sinergi Kreatif Menghidupkan Sejarah
Produksi film ini melibatkan tim kreatif dari Kremov Pictures yang memberikan sentuhan visual dramatis pada setiap adegannya. Melalui arahan sinematografi yang apik, penonton diajak kembali ke masa revolusi, tepatnya saat pendirian Akademi Militer Tangerang (MAT) pada 18 November 1945. Film ini memotret sosok Mayor Daan Mogot, yang dalam usia sangat muda—baru menginjak 17 tahun—sudah dipercaya menjadi direktur pertama akademi militer tersebut.
Kehadiran kru produksi yang solid berhasil menciptakan atmosfer tahun 1940-an yang autentik, mulai dari seragam para taruna hingga detail persenjataan. Pesan yang ditekankan dalam film ini sangat mendalam: bahwa senjata bukanlah alat untuk membunuh, melainkan instrumen untuk menjaga kedaulatan dan melindungi diri.
Kronologi Senja Berdarah di Lengkong
Inti dari narasi film ini adalah rekonstruksi peristiwa tragis pada 25 Januari 1946. Mayor Daan Mogot, didampingi beberapa perwira seperti Mayor Wibowo, Lettu Soebianto Djojohadikoesoemo, dan Lettu Soetopo, memimpin puluhan taruna MAT menuju markas Jepang di Lengkong untuk melucuti senjata mereka. Hal ini dilakukan demi mencegah persenjataan Jepang jatuh ke tangan NICA Belanda.
Awalnya, perundingan dengan Kapten Abe berjalan damai. Namun, sebuah letusan senjata yang tiba-tiba memicu kesalahpahaman fatal. Tentara Jepang yang merasa terjebak langsung menghujani para taruna dengan tembakan senapan mesin dari pos-pos tersembunyi. Dalam pertempuran yang tidak seimbang tersebut, Mayor Daan Mogot gugur bersama 33 taruna dan 2 perwira lainnya.
Kisah Cinta yang Menyayat Hati
Tidak hanya sisi militer, film ini juga menyuguhkan sisi humanis melalui kisah cinta Elias (nama kecil Daan Mogot) dengan kekasihnya, Hadjari Singgih. Salah satu momen yang paling menguras emosi adalah janji setia Hadjari yang akan selalu menunggu kepulangan sang Mayor.
Baca Juga Rampok Motor dan HP Anak SMP Di Lampung TengahSejarah mencatat bahwa saat pemakaman ulang para pahlawan Lengkong pada 29 Januari 1946, Hadjari melakukan tindakan simbolis yang mengharukan. Ia memotong rambut panjangnya yang sepinggang dan ikut menguburkannya di liang lahat Daan Mogot sebagai tanda cinta sejati yang dibawa sampai mati.
Edukasi Digital bagi Generasi Muda
Melalui perilisan di YouTube, BP Kebudayaan Banten dan Kremov Pictures berharap nilai-nilai patriotisme Daan Mogot tidak lekang oleh waktu. Peristiwa ini kini dikenang sebagai Hari Bakti Taruna Akademi Militer berdasarkan ketetapan KSAD pada tahun 2005.
Bagi para penikmat film dan pecinta sejarah, karya ini adalah tontonan wajib yang mengingatkan kita bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar dengan darah para pemuda. Film ini telah tersedia secara gratis dan siap disaksikan untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme di era digital.
LINK FILM:
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!