Ajang Formula 1 kembali dihadapkan pada sorotan tajam setelah serangkaian kendala teknis dan operasional yang memalukan terjadi pada sesi akhir pekan Grand Prix Singapura. Mantan pebalap sekaligus pengamat senior, Martin Brundle, dengan tegas melontarkan kritik keras bahwa ajang balap jet darat paling bergengsi di dunia ini seharusnya merasa malu atas kekacauan sistem pewaktuan yang memaksa penundaan panjang pada sesi Sprint Shootout.

Sesi kualifikasi pendek tersebut sama sekali tidak berjalan mulus sejak awal ketika para pebalap harus langsung menghadapi situasi sulit di lintasan jalan raya Marina Bay. Ketegangan meningkat drastis setelah dikibarkan bendera merah menyusul insiden kecelakaan yang melibatkan Sergio Perez saat mobilnya membentur dinding pembatas sirkuit. Selepas insiden tersebut, para pebalap kembali turun ke trek untuk menyelesaikan putaran cepat mereka demi mengamankan posisi terbaik di sirkuit yang menantang ini.

Namun, masalah pelik justru muncul tepat saat bendera finis berkibar menandai berakhirnya sesi SQ1. Menara pewaktuan resmi gagal mencatat waktu putaran dari beberapa pebalap, sebuah kegagalan fatal yang langsung memicu kebingungan massal di kalangan para penggemar di tribun, penonton televisi, hingga para komentator di ruang siar yang kesulitan menebak enam pebalap mana saja yang harus tersingkir dari sesi tersebut.

- Advertisement -
Advertisement

Menanggapi kekacauan yang terjadi, Federasi Automobil Internasional (FIA) langsung mengambil tindakan cepat dengan menunda dimulainya sesi SQ2 guna melakukan investigasi mendalam serta memulihkan sistem pewaktuan yang error. Melalui pernyataan resminya, pihak FIA mengonfirmasi bahwa masalah tersebut berhasil diselesaikan, namun mereka tetap harus mengevaluasi ulang apakah gangguan itu akan berdampak secara keseluruhan pada sisa jalannya rangkaian sesi kualifikasi hari itu.

Kritik pedas dari Martin Brundle tentu bukan tanpa alasan yang kuat, mengingat insiden memalukan ini terjadi hanya berselang kurang dari satu pekan setelah gangguan perangkat lunak sempat merusak prosedur start balapan di Sepang. Berbicara kepada Sky Sports, pengamat kondang tersebut menekankan bahwa kegagalan teknis beruntun semacam ini merupakan pukulan telak bagi citra Formula 1 yang selama ini mengklaim diri sebagai puncak dari ajang motorsport global.

Baca Juga Kelemahan Paket Upgrade Mercedes Terbongkar di Singapura

Tidak hanya berhenti pada masalah pewaktuan, FIA kemudian juga memberikan klarifikasi terpisah mengenai adanya kesalahan manusia atau human error yang terjadi di dalam Race Control. Kesalahan operasional tersebut menyebabkan mode menyalip atau Overtake Mode sempat tidak aktif selepas periode bendera merah, sebelum akhirnya disadari dan diaktifkan kembali selama 27 detik oleh pengawas balapan.

Meskipun sesi akhirnya dapat dilanjutkan tanpa hambatan berarti hingga Max Verstappen sukses merebut posisi pole position perdananya di Singapura bersama Red Bull, rentetan masalah teknis ini tetap menyisakan tanda tanya besar. Dilansir dari Motorsport Week, akumulasi kendala operasional ini kembali membuka perdebatan publik mengenai kesiapan infrastruktur dan kompleksitas regulasi teknik yang sedang dihadapi oleh Formula 1.