Juara dunia MotoGP Marc Marquez secara tegas menyatakan komitmennya untuk tidak pernah menyalahgunakan pengaruh media demi menyerang atau menjatuhkan para pesaingnya di lintasan balap. Pernyataan ini mencerminkan sikap dewasa sang pebalap asal Spanyol setelah bertahun-tahun melalui berbagai dinamika hubungan yang rumit di paddock kejuaraan dunia balap motor paling bergengsi ini, termasuk tensi tinggi yang melibatkan nama-nama besar di masa lalu.
Ingatan para pecinta balap tentu masih lekat pada perseteruan sengit yang bermula di Sirkuit Sepang pada tahun 2015 silam. Saat itu, ketegangan memuncak ketika Valentino Rossi melontarkan tuduhan terbuka yang menyebut Marquez berupaya membantu Jorge Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia. Tuduhan tersebut memicu atmosfer media yang begitu kejam dan berdampak langsung pada hubungan kedua atlet di dalam maupun di luar sirkuit.
Insiden di Sepang tersebut berujung pada kontak fisik di atas lintasan yang menyebabkan Marquez terjatuh dan tersingkir dari balapan. Konsekuensi dari kejadian itu membuat Rossi diganjar penalti poin yang berakibat pada hukuman start dari posisi paling buncit pada seri penutup di Valencia. Meskipun Rossi mampu bangkit dan finis di posisi keempat, kemenangan Lorenzo di podium tertinggi memastikan gelar juara dunia lepas dari genggaman pebalap Italia tersebut.
Sepanjang perseteruan panjang tersebut, Marquez kerap berada di posisi yang dirugikan oleh badai pemberitaan media. Salah satu momen ikonik terjadi pada tahun 2018 ketika ia secara terbuka menawarkan jabat tangan kepada Rossi dalam sebuah konferensi pers, namun ajakan tersebut ditolak mentah-mentah. Penolakan itu terjadi setelah tensi kembali memanas akibat insiden senggolan di Argentina pada tahun yang sama yang menyebabkan pebalap pabrikan Yamaha kala itu harus mengalami kecelakaan.
Meskipun Valentino Rossi telah resmi pensiun bertahun-tahun setelah insiden Sepang yang memicu badai media terburuk dalam sejarah modern MotoGP, bayang-bayang peristiwa tersebut terkadang masih disinggung. Rossi kerap berbicara dengan nada kekecewaan mengenai insiden yang diyakininya sebagai faktor penghalang meraih gelar juara dunia kesepuluhnya. Di sisi lain, baik Marquez maupun Rossi dikenal memiliki ketangguhan mental luar biasa dalam menghadapi tekanan eksternal maupun dalam memainkan psikologis rival mereka.
Baca Juga Raul Fernandez: Saya Bukan Kandidat Juara MotoGP 2026 Meski Menang di SilverstoneKendati demikian, Marquez meyakini bahwa media merupakan alat yang efektif untuk kepentingan pribadi yang positif, tetapi tidak boleh dimanfaatkan untuk merugikan orang lain. Dalam wawancara mendalam bersama Autosport, ia menjelaskan pandangannya mengenai kekuatan pengaruh media yang ia miliki saat ini. "Tentu saja, jika Anda memiliki kekuatan itu, itu karena Anda telah melakukan hal-hal dengan cara yang baik di masa lalu, bukan di masa sekarang," ungkap Marc Marquez dalam wawancara tersebut.
Lebih lanjut, pebalap andalan ini menegaskan batas etika yang ia pegang teguh dalam memanfaatkan sorotan publik. "Tapi saya tidak akan pernah menggunakan kekuatan media melawan seseorang. Saya akan katakan, mungkin saya akan menggunakan media untuk keuntungan saya, dan saya sudah menggunakannya untuk keuntungan saya — saya tidak akan bilang keuntungan mental, keuntungan ekonomi, maksud saya hanya untuk keuntungan saya, untuk mencoba agar tetap tenang. Tapi tidak pernah melawan seseorang," imbuhnya.
Wawancara tersebut dipublikasikan menjelang rangkaian balapan akhir pekan di Australia, di mana Marquez kembali menunjukkan tajinya di lintasan. Pertarungan sengit sempat terjadi antara dirinya dan rival-rival terdekat sebelum insiden kecelakaan mengubah jalannya persaingan di papan atas klasemen. Dinamika persaingan yang terus bergulir ini membuktikan bahwa tensi di lintasan balap akan selalu diimbangi dengan kedewasaan para atlet dalam memandang pengaruh dunia luar terhadap karier mereka.
Add us as preferred source

Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!